Merawat Air, Menjaga Pangan: Kiprah GIB Selama 13 Tahun di Sriharjo

Sriharjo, Bantul, 5 Juni 2026 – Gerakan Irigasi Bersih (GIB) memperingati hari jadinya yang ke-13 melalui rangkaian kegiatan budaya, aksi lingkungan, dan workshop di Desa Sriharjo, Kabupaten Bantul. Mengusung tema “Kiprah GIB adalah Bagian dari Desa Pro Lingkungan dan Iklim”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas pentingnya menjaga kebersihan sumber daya air, memperkuat ketahanan pangan, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap tantangan perubahan iklim melalui pendekatan budaya dan gotong royong.

Prosesi Mapag Toya yang dilaksanakan oleh masyarakat petani (khususnya organisasi Subak di Bali) untuk menjemput dan mengalirkan air dari sumbernya (hulu) menuju sistem irigasi persawahan

Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi Mapag Toyo, yaitu prosesi penjemputan air di pintu air yang dilakukan melalui berbagai kegiatan simbolis berupa penyiraman dan pembukaan pintu air. Tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat ini mencerminkan penghormatan terhadap air sebagai sumber kehidupan sekaligus penopang utama sektor pertanian.

Setelah prosesi budaya, kegiatan dilanjutkan dengan workshop yang menghadirkan akademisi, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan pegiat lingkungan untuk mendiskusikan peran pengelolaan air dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.

Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun Khasanah dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberadaan Gerakan Irigasi Bersih telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa dan berkontribusi dalam memperkuat kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Ketua Gerakan Irigasi Bersih (GIB), Suyitno, menjelaskan bahwa Desa Sriharjo memiliki keterikatan yang kuat dengan seni, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat yang juga tercermin dalam pengelolaan sistem irigasinya. Menurutnya, persoalan sampah yang masih ditemukan di saluran irigasi menjadi tantangan bersama yang perlu ditangani secara kolaboratif.

“Desa Sriharjo sangat kental dengan aspek seni dan budaya yang melekat dalam kehidupan sosial masyarakat, termasuk dalam pengelolaan irigasi. Saat ini kita masih menghadapi permasalahan sampah di saluran irigasi. Karena itu, gerakan ini bertujuan menjaga kebersihan irigasi dari hulu hingga ke petak-petak sawah tersier,” ujar Suyitno.

Ia menegaskan bahwa GIB bukan sekadar kegiatan membersihkan saluran irigasi, melainkan gerakan yang membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Harapannya bukan hanya untuk pertanian kita hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” tambahnya.

Wakil Bupati Bantul yang hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas konsistensi Gerakan Irigasi Bersih yang telah berjalan selama 13 tahun. Menurutnya, air yang bersih merupakan fondasi utama bagi pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

“Saya mengucapkan selamat dan memberikan apresiasi atas inisiatif yang mendukung pertanian berkelanjutan ini. Air yang bersih merupakan pondasi pertanian yang optimal, menghasilkan pangan yang sehat, serta menjaga kualitas lingkungan. Harapan kami, seluruh masyarakat Bantul, khususnya petani, dapat menikmati manfaat dari gerakan ini melalui sistem irigasi yang bersih dan sehat,” ujarnya sekaligus membuka workshop secara resmi.

Sambutan dari Dekan Fakultas Teknologi Pertanian yang diwakili oleh Dr. Murtiningrum

Dukungan juga disampaikan oleh Fakultas Teknologi Pertanian UGM melalui Dr. Ir. Murtiningrum yang mewakili Dekan FTP UGM. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang selama ini mendukung dan mengembangkan Gerakan Irigasi Bersih.

“Gerakan Irigasi Bersih tidak hanya sekadar kegiatan membersihkan saluran irigasi, tetapi juga bagaimana merawat dan melestarikannya agar tetap berfungsi dengan baik di masa depan. Selamat ulang tahun ke-13 untuk GIB, semoga semakin bermanfaat dan menginspirasi gerakan-gerakan serupa di berbagai daerah,” ujarnya.

Sesi workshop kemudian dimoderatori oleh Suyitno. Dalam pengantarnya, ia menegaskan bahwa tantangan pengelolaan air saat ini memerlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Sesi Pemaparan Materi Workshop yang dibawakan oleh Prof. Sigit Supadmo

Sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif menyampaikan materi berjudul “Mengairi Peradaban, Merawat Bumi: Gerakan Irigasi Bersih (GIB) Sebagai Manifestasi Desa Pro Lingkungan Berbasis Budaya Mataraman”. Dalam paparannya, ia menyoroti dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air dan pentingnya pengelolaan irigasi yang berkelanjutan.

“Perubahan iklim semakin terasa dan sumber daya air juga ikut terdampak. Karena itu, masalah air saat ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat,” jelasnya.

Menurut Prof. Sigit, sistem irigasi merupakan bagian paling hulu dalam rantai produksi pangan, terutama padi dan palawija. Ia menjelaskan bahwa terdapat lima pilar utama yang menentukan keberhasilan sistem irigasi, yaitu keandalan sumber daya air dan lahan, infrastruktur, tata kelola, kelembagaan, serta sumber daya manusia pelaku.

“Kelima aspek tersebut harus berkembang secara harmonis agar mampu mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan. Gerakan Irigasi Bersih mengambil peran penting dalam pemeliharaan infrastruktur irigasi sekaligus menjaga kebersihan jaringan dari sampah dan limbah agar mutu pangan tetap terjaga,” paparnya.

Prof. Sigit juga menegaskan bahwa keterkaitan antara GIB dan Desa Proklim terletak pada harmonisasi antara lingkungan, sumber daya air, dan sosial budaya masyarakat. Menurutnya, pengelolaan air yang baik merupakan salah satu kunci dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus keberlanjutan lingkungan.

Pemaparan Materi oleh Nindya Marsya Larasati, S.Sos (kiri) bersama Bapak Suyitno (tengah) dan Prof Sigit (kanan)

Narasumber berikutnya, Nindya Marsya Larasati, S.Sos., memaparkan tinjauan Common Pool Resource (CPR) yang dikembangkan oleh dalam konteks Gerakan Irigasi Bersih. Menurutnya, praktik-praktik yang selama ini dijalankan GIB secara tidak langsung telah mencerminkan prinsip-prinsip desain kelembagaan Ostrom dalam pengelolaan sumber daya bersama.

Ia menjelaskan bahwa pengaturan hak akses air melalui rembug desa, distribusi air yang disesuaikan dengan musim dan kearifan lokal, serta penerapan sanksi sosial bagi pelanggar merupakan bentuk nyata pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

“Gerakan Irigasi Bersih dapat menjadi blueprint pengelolaan sumber daya bersama yang berkelanjutan. Modal sosial yang kuat di masyarakat Bantul menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan sistem irigasi dan sumber daya air,” jelas Nindya.

Menutup sesi diskusi, Suyitno menegaskan bahwa praktik-praktik seperti Mapag Toyo dan gotong royong membersihkan saluran irigasi telah menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, Gerakan Irigasi Bersih menjadi bukti bahwa tantangan global seperti krisis iklim dapat dijawab melalui penguatan nilai-nilai lokal dan kelembagaan desa.

“Menjaga air berarti menjaga pangan, menjaga lingkungan, dan menjaga kehidupan. Gerakan yang dimulai dari tindakan-tindakan kecil 13 tahun lalu kini telah tumbuh menjadi gerakan yang semakin luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan sampah di saluran irigasi masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara bersama-sama melalui kolaborasi lintas sektor.

“Ketika nilai-nilai Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula Gusti, dan Memayu Hayuning Bawana diwujudkan dalam tindakan nyata di desa-desa, maka kelestarian alam bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Pak Barman, petani asal Sriharjo yang kini berusia 75 tahun, menyampaikan harapannya agar Gerakan Irigasi Bersih (GIB) semakin mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian dan kebersihan sumber daya air.

“Saya berharap dengan adanya GIB ini, semua elemen masyarakat semakin sadar bahwa air harus dijaga bersama. Air yang bersih sangat penting bagi pertanian karena apa yang kami tanam di sawah pada akhirnya akan kembali ke masyarakat sebagai bahan pangan yang mereka konsumsi. Kalau airnya bersih, hasil pertaniannya juga lebih baik dan lebih sehat,” ujar Barman.

 

Melalui peringatan HUT ke-13 ini, Gerakan Irigasi Bersih kembali menegaskan komitmennya dalam mengintegrasikan pengelolaan air, pelestarian lingkungan, budaya lokal, dan ketahanan pangan sebagai bagian dari upaya membangun desa yang tangguh terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses