Yogyakarta, 27 Agustus 2026 – Susut hasil pascapanen masih menjadi salah satu tantangan dalam rantai produksi pertanian karena dapat mengurangi jumlah hasil yang dapat dimanfaatkan sekaligus menurunkan nilai ekonomi komoditas yang diterima petani. Untuk menekan kehilangan tersebut, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) bersama Laboratorium Uji Pascapanen, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) menginisiasi kerja sama penerapan teknologi dan alat mesin pertanian (alsintan) pascapanen di sejumlah wilayah potensial.
Pertemuan yang berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026 tersebut membahas berbagai permasalahan susut hasil pascapanen yang masih ditemukan di beberapa daerah sekaligus peluang penerapan teknologi yang lebih tepat guna untuk meningkatkan efisiensi penanganan hasil pertanian. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan pendekatan berbasis riset yang mampu menekan kehilangan hasil, mempertahankan kualitas komoditas, serta meningkatkan efisiensi sistem pascapanen.
Hal tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) dan Laboratorium Uji Pascapanen, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) pada Kamis, 27 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi bagian dari inisiasi kerja sama untuk mengembangkan strategi dan penerapan teknologi pascapanen guna menurunkan susut hasil di sejumlah wilayah potensial.
Pertemuan tersebut mempertemukan perspektif kebijakan pembangunan dengan kapasitas akademik dan teknis dalam bidang teknologi pascapanen. Sinergi ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang pendekatan yang lebih tepat untuk menangani persoalan susut hasil pascapanen di berbagai wilayah.
Dari Kementerian PPN/Bappenas, pertemuan dihadiri oleh Aropando Goklas Sibarani, Koordinator Tim Ekonomi Hijau, Direktorat P4T; Gusfar Arzi, Staf Ekonomi Hijau; Izmi, Staf Ekonomi Hijau; serta Khairunisa, Staf Sekretariat.
Sementara itu, dari Laboratorium Uji Pascapanen FTP UGM hadir Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dekan FTP UGM; Dr. Sri Rahayoe, Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerja Sama; Dr. Joko Nugroho; Dr. Arifin Dwi Saputro; Dr. Devi Yuni Susanti; Dr. Hanim Zuhrotul Amanah; Dr. Bayu Nugraha; Dr. Dwi Ayuni; serta Hilda Maya Sintia Dewi, M.Sc.
Susut Hasil Pascapanen Menjadi Tantangan
Susut hasil pascapanen merupakan salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian dalam rantai produksi pertanian. Kehilangan hasil dapat terjadi pada berbagai tahapan setelah panen sehingga berpotensi mengurangi kuantitas maupun nilai hasil pertanian yang diterima oleh petani dan pelaku usaha.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas adanya permasalahan susut hasil pascapanen yang masih ditemukan di beberapa daerah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang tidak hanya mengandalkan peningkatan produksi di tingkat budidaya, tetapi juga memperkuat efisiensi pada tahapan setelah panen.
Penerapan teknologi pascapanen dan alsintan menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk menjawab persoalan tersebut. Teknologi yang tepat diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi proses sekaligus mengurangi kehilangan hasil pada tahapan penanganan dan pengolahan komoditas pertanian.
Inisiasi Kerja Sama Penerapan Teknologi Pascapanen

Salah satu agenda utama yang dibahas adalah inisiasi kerja sama untuk menurunkan susut hasil pascapanen di sejumlah wilayah potensial melalui penerapan teknologi dan alsintan pascapanen.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada kajian akademik, tetapi dapat diarahkan pada penerapan teknologi secara langsung di wilayah yang memiliki permasalahan susut hasil. Dengan demikian, hasil riset dan pengembangan teknologi dapat diuji serta disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Laboratorium Uji Pascapanen FTP UGM memiliki peran strategis dalam mendukung proses tersebut melalui kapasitas sumber daya manusia, fasilitas pengujian, serta keilmuan di bidang teknik dan teknologi pascapanen. Kapasitas tersebut dapat menjadi salah satu fondasi untuk melakukan identifikasi permasalahan, evaluasi teknologi, hingga pengembangan rekomendasi penerapan alsintan pascapanen.
Mendorong Teknologi Pascapanen yang Tepat Guna
Penerapan alsintan pascapanen perlu mempertimbangkan karakteristik komoditas, kondisi wilayah, kapasitas pengguna, serta kebutuhan rantai pasok. Oleh karena itu, pendekatan berbasis riset diperlukan agar teknologi yang diterapkan benar-benar dapat menjawab persoalan yang dihadapi di masing-masing wilayah.
Kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas dan FTP UGM diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan pengembangan teknologi berbasis ilmu pengetahuan. Identifikasi wilayah potensial menjadi salah satu langkah penting untuk menentukan lokasi penerapan dan jenis teknologi yang sesuai.
Melalui pendekatan tersebut, penerapan alsintan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan mekanisasi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi memberikan dampak terhadap efisiensi penanganan hasil, pengurangan susut, serta peningkatan nilai hasil pertanian.
Memperkuat Kontribusi Akademisi bagi Pembangunan Pertanian
Inisiasi kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nyata pembangunan pertanian. Keilmuan yang dikembangkan melalui penelitian dan pengujian laboratorium dapat dihubungkan secara langsung dengan kebutuhan perencanaan dan implementasi program di lapangan.
Sinergi Kementerian PPN/Bappenas dan Laboratorium Uji Pascapanen FTP UGM diharapkan dapat menghasilkan pendekatan yang terukur dalam upaya menurunkan susut hasil pascapanen. Hasil kerja sama nantinya berpotensi menjadi dasar dalam pengembangan rekomendasi teknologi maupun model penerapan alsintan di wilayah lainnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, upaya pengurangan susut hasil pascapanen diharapkan dapat mendukung efisiensi sistem pangan, meningkatkan pemanfaatan hasil pertanian, serta memperkuat pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Inisiasi kerja sama ini menjadi langkah awal untuk mengembangkan penerapan teknologi dan alsintan pascapanen berbasis kebutuhan wilayah. Ke depan, kolaborasi diharapkan dapat dilanjutkan melalui identifikasi wilayah potensial, pengujian dan evaluasi teknologi, serta penerapan langsung di lapangan untuk menghasilkan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi sistem pertanian dan pangan Indonesia.