Kepakaran Dosen TPB UGM Dukung Penguatan Hilirisasi Kakao melalui CTLI

Jember, 1 September 2026 – Penguatan ekosistem hilirisasi kakao membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan pelaku industri. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kunjungan tim Universitas Gadjah Mada (UGM) ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Jember, Jawa Timur, pada 1 September 2026 untuk membahas peluang kerja sama sekaligus revitalisasi peran Cocoa Teaching and Learning Industry (CTLI) UGM sebagai fasilitas UGM dalam praktik hilirisasi kakao.

Dalam kunjungan tersebut, Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, hadir bersama tim Direktorat Pengembangan Usaha UGM dan CTLI UGM. Pertemuan menjadi ruang diskusi untuk membangun sinergi antara UGM dan Puslitkoka, khususnya dalam pengembangan teknologi, pendidikan, riset, serta hilirisasi komoditas kakao.

Membahas Revitalisasi Peran CTLI UGM

Kunjungan ke Puslitkoka diarahkan untuk membahas peluang kerja sama yang dapat memperkuat kembali peran Cocoa Teaching and Learning Industry (CTLI) UGM. CTLI merupakan fasilitas UGM yang dikembangkan untuk mendukung praktik hilirisasi kakao, dengan menghubungkan proses pembelajaran, penelitian, pengembangan teknologi, pengolahan, hingga pengembangan produk kakao bernilai tambah.

Keberadaan CTLI menjadi bagian dari upaya UGM untuk menghadirkan ruang yang memungkinkan pengetahuan dan hasil penelitian di bidang kakao diterapkan secara lebih nyata. Melalui fasilitas tersebut, proses hilirisasi dapat dipelajari dan dikembangkan mulai dari bahan baku hingga produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Kolaborasi dengan Puslitkoka diharapkan dapat memperkuat fungsi tersebut melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman penelitian, serta pengembangan teknologi dan inovasi di bidang kakao. Sinergi antara fasilitas hilirisasi UGM dan lembaga penelitian yang memiliki pengalaman dalam pengembangan komoditas kakao juga dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas.

Kepakaran Dosen TPB UGM dalam Bidang Kakao

Dalam konteks tersebut, keterlibatan Dr. Arifin Dwi Saputro menjadi bagian penting dalam diskusi. Kepakaran Dr. Arifin pada bidang kakao dan cokelat, khususnya dalam aspek teknologi pengolahan dan pengembangan produk, menjadi salah satu modal akademik UGM dalam membangun kerja sama tersebut.

Dr. Arifin merupakan dosen TPB FTP UGM yang telah menempuh pendidikan doktoral (S3) di Ghent University, Belgia. Latar belakang akademik dan kepakarannya pada bidang kakao dan cokelat mendukung kontribusi UGM dalam pengembangan teknologi pengolahan, peningkatan kualitas produk, serta pengembangan produk kakao bernilai tambah.

Keterlibatan Dr. Arifin dalam diskusi bersama Puslitkoka sekaligus menunjukkan rekognisi terhadap kepakaran dosen TPB FTP UGM dalam bidang kakao dan cokelat. Kepakaran tersebut menjadi bagian dari kontribusi UGM dalam memperkuat kolaborasi lintas lembaga dan mendorong pengembangan kakao dari sektor hulu hingga hilir.

Potensi Besar Komoditas Kakao Indonesia

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia yang memiliki peran penting dalam perekonomian sekaligus memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi.

Dilansir dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, berdasarkan data Statistik Perkebunan, produksi kakao Indonesia pada 2024 tercatat sekitar 617 ribu ton dari luas areal mencapai 1,37 juta hektare. Pada 2025, produksi kakao diperkirakan berada di kisaran 616 ribu ton, sementara produksi pada 2026 diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 635 ribu ton dengan luas areal mencapai 1,38 juta hektare.

Besarnya produksi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis bahan baku yang kuat untuk mengembangkan industri pengolahan kakao. Penguatan produktivitas dan kualitas bahan baku menjadi semakin penting untuk memastikan komoditas kakao dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi pekebun dan industri nasional.

Dari sisi perdagangan, dilansir dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Ditjen Perkebunan mencatat ekspor kakao Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 348 ribu ton dengan nilai US$2,65 miliar. Angka tersebut menunjukkan pentingnya komoditas kakao dalam perdagangan perkebunan Indonesia sekaligus besarnya peluang pengembangan industri kakao nasional.

Sementara itu, Kementerian Pertanian melalui publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Kakao Tahun 2025 menyebutkan bahwa kakao menjadi salah satu komoditas penting dalam perdagangan subsektor perkebunan. Pada 2024, ekspor kakao memberikan sumbangan devisa sekitar US$2,65 miliar atau 7,62 persen dari total nilai ekspor komoditas perkebunan.

Namun, tantangan pengembangan kakao tidak hanya terletak pada peningkatan produksi. Peningkatan kualitas bahan baku, penguatan teknologi pascapanen dan pengolahan, serta pengembangan produk turunan menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya saing industri kakao nasional.

Hilirisasi Membuka Peluang Nilai Tambah

Hilirisasi menjadi salah satu peluang penting dalam pengembangan industri kakao Indonesia. Produk kakao tidak harus berhenti pada komoditas biji, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk antara maupun produk akhir dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Dilansir dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pemerintah mendorong penguatan industri pengolahan kakao mulai dari biji fermentasi, cocoa liquor, cocoa butter, hingga produk cokelat jadi. Pengembangan rantai pengolahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah yang diperoleh di dalam negeri.

Biji kakao juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk antara seperti cocoa nibs, cocoa mass, cocoa liquor, cocoa butter, dan cocoa powder, sebelum diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk cokelat dan pangan olahan.

Pengembangan rantai nilai tersebut memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari komoditas kakao. Hilirisasi juga dapat mendorong berkembangnya industri pengolahan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperkuat hubungan antara petani, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan industri.

Selain produk olahan konvensional, Indonesia juga memiliki peluang untuk mengembangkan produk kakao dengan karakteristik khusus dan kualitas premium. Penguatan mutu biji, proses fermentasi, teknologi pengolahan, inovasi produk, hingga strategi pemasaran menjadi aspek penting untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar global.

Membangun Ekosistem Kakao dari Riset hingga Industri

Kunjungan UGM ke Puslitkoka menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kolaborasi yang menghubungkan riset, pendidikan, teknologi, dan industri.

Revitalisasi CTLI UGM diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai fasilitas UGM dalam praktik hilirisasi kakao. Fasilitas ini tidak hanya dapat mendukung pembelajaran dan pelatihan, tetapi juga menjadi ruang untuk pengembangan teknologi pengolahan, pengujian dan pengembangan produk, serta penerapan hasil riset menjadi produk kakao bernilai tambah.

Sinergi antara CTLI UGM dan Puslitkoka juga membuka peluang untuk memperkuat transfer pengetahuan dan teknologi kepada mahasiswa, pelaku usaha, maupun masyarakat. Dengan dukungan kepakaran dosen dan fasilitas penelitian yang dimiliki masing-masing lembaga, kolaborasi dapat diarahkan pada pengembangan inovasi kakao yang lebih aplikatif dan berorientasi pada kebutuhan industri serta pasar.

Kehadiran Dr. Arifin Dwi Saputro dalam diskusi tersebut memperkuat peran TPB FTP UGM dalam pengembangan teknologi berbasis komoditas pertanian. Kepakaran di bidang kakao dan cokelat menjadi salah satu kontribusi strategis dalam mendorong pengembangan produk bernilai tambah sekaligus memperkuat praktik hilirisasi kakao melalui CTLI UGM.

Melalui kolaborasi antara UGM dan Puslitkoka, pengembangan kakao diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas, inovasi produk, penguatan sumber daya manusia, dan penciptaan nilai tambah dari hulu hingga hilir.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses