Yogyakarta, 1 September 2026 – Pengelolaan residu hasil panen menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan di Indonesia. Praktik pembakaran jerami dan residu pertanian masih ditemukan di sejumlah wilayah dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Upaya pengelolaan residu melalui mekanisasi dan pemanfaatan kembali menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam National Multistakeholder Dialogue bertajuk “Scaling Crop Residue Management Through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia” yang diselenggarakan pada 1 September 2026 oleh The United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) – Centre for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) bersama BRMP Mekanisasi Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berpartisipasi melalui tiga dosen, yaitu Prof. Lilik Sutiarso sebagai salah satu narasumber, serta Dr. Radi dan Sri Markumningsih, Ph.D. sebagai peserta dialog.

Berbagi Pengalaman Pilot Project Pengelolaan Residu Pertanian
Kehadiran dosen TPB UGM dalam dialog ini berkaitan dengan pengalaman kerja sama CSAM–UGM dalam pelaksanaan pilot project pada tahun 2023. Dalam dialog, Prof. Lilik Sutiarso berbagi pengalaman dan pembelajaran dari kegiatan “Experiences and Lessons Learned from Crop Residue Management Pilot Activities in Indonesia” yang dilaksanakan pada tiga dusun di Yogyakarta melalui program pilot project.
Prof. Lilik yang menjadi ketua tim project menjelaskan bahwa salah satu permasalahan utama yang ditemukan di lokasi kegiatan adalah kebiasaan petani dalam menangani residu hasil panen padi, khususnya jerami dan sekam. Residu tersebut umumnya dibakar setelah kegiatan panen sehingga menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
Melihat kondisi tersebut, tim UGM mengusulkan pendekatan melalui mekanisasi pertanian untuk mengurangi praktik pembakaran residu sekaligus meningkatkan pemanfaatannya.
“Permasalahan utama yang kami hadapi adalah bagaimana petani memperlakukan residu hasil panen, terutama jerami dan sekam, yang umumnya dibakar. Karena itu, kami mengusulkan pilot project untuk menekan pembakaran residu pertanian melalui pendekatan mekanisasi pertanian,” jelas Prof. Lilik.
Melalui pendekatan tersebut, residu pertanian tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang atau dibakar, tetapi dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan. Jerami dapat diolah menjadi pakan ternak fermentasi, dipadatkan untuk penyimpanan dalam bentuk hay (pressed straw storage), maupun dimanfaatkan sebagai kompos.
Mekanisasi untuk Meningkatkan Pemanfaatan Residu
Dalam pilot project tersebut, sejumlah teknologi mekanisasi diperkenalkan kepada masyarakat, antara lain chopper, thresher, dan presser. Penerapan alat-alat tersebut diarahkan untuk membantu petani dalam menangani residu hasil pertanian secara lebih efektif dan efisien.
Penggunaan mekanisasi diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada praktik pembakaran, tetapi juga memberikan alternatif pemanfaatan residu yang memiliki nilai guna bagi kegiatan pertanian dan peternakan.
Hasil dari pilot project menunjukkan sejumlah capaian penting. Salah satunya adalah peningkatan indeks mekanisasi dalam kegiatan pertanian di lokasi pilot project.
Capaian lainnya terlihat dari meningkatnya pengelolaan limbah pascapanen. Hampir 90 persen limbah pascapanen berupa jerami disimpan dan diolah menjadi pakan ternak. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam cara masyarakat menangani residu hasil panen.
Melalui kegiatan tersebut, petani tidak hanya diperkenalkan dengan teknologi mekanisasi, tetapi juga mendapatkan pembelajaran mengenai pentingnya memanfaatkan kembali residu pertanian sekaligus menjaga lingkungan.
Pilot Project sebagai Awal Kemandirian Masyarakat
Prof. Lilik menekankan bahwa pelaksanaan pilot project tidak seharusnya berhenti ketika program selesai. Menurutnya, keberlanjutan program justru ditentukan oleh kemampuan masyarakat untuk melanjutkan dan mengembangkan praktik yang telah diperkenalkan.
“Ketika program pilot project selesai, bukan berarti kegiatan yang kita ajarkan berhenti begitu saja. Perlu ada kontribusi secara sukarela dari para partisipan karena program tersebut juga memberikan manfaat bagi mereka,” ungkap Prof. Lilik.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima teknologi, tetapi sebagai pihak yang memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan kegiatan. Ketika komunitas telah mampu menjalankan praktik secara mandiri dan berkelanjutan, diperlukan langkah berikutnya untuk memperluas penyebaran pengetahuan.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pembentukan learning center sebagai sarana pembelajaran dan berbagi pengalaman. Keberadaan learning center diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan pengetahuan mengenai pengelolaan residu pertanian sekaligus membagikan pengalaman kepada komunitas lainnya.
Memperkuat Mekanisasi Pertanian Berkelanjutan
National Multistakeholder Dialogue menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membahas pengelolaan residu tanaman melalui mekanisasi dan skema custom hiring di Indonesia.
Pengalaman UGM dalam pilot project tahun 2023 menunjukkan bahwa pendekatan mekanisasi dapat dikombinasikan dengan edukasi dan pemberdayaan masyarakat untuk mengubah pola pengelolaan residu pertanian. Residu yang sebelumnya dibakar dapat diarahkan menjadi sumber daya yang kembali dimanfaatkan dalam sistem pertanian.
Partisipasi Prof. Lilik Sutiarso, Dr. Radi, dan Sri Markumningsih, Ph.D. dalam kegiatan tersebut sekaligus memperkuat kontribusi TPB FTP UGM dalam berbagi pengalaman akademik dan praktik lapangan terkait mekanisasi pertanian, pengelolaan residu, serta pengembangan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Melalui pertukaran pengalaman antara pemerintah, lembaga internasional, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya, hasil pembelajaran dari pilot project diharapkan dapat menjadi referensi dalam memperluas penerapan crop residue management berbasis mekanisasi di berbagai wilayah Indonesia.