Yogyakarta, 2 September 2026 – Pengembangan teknologi pertanian tidak cukup hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menerjemahkan sains menjadi inovasi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Menggabungkan sains dengan bisnis menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendorong hasil penelitian memiliki nilai tambah sekaligus mengaktifkan dan melahirkan inovasi baru di bidang teknik pascapanen. Perspektif tersebut disampaikan Danial Fatcurrahman, Ph.D., dosen Department of Agricultural Sciences, Food, Natural Resources and Engineering, University of Foggia, Italy, dalam kuliah tamu internasional “Quality Inspection Techniques for Fresh Products” yang diselenggarakan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama grup penelitian Computer-aided Postharvest Technology UGM, Rabu (1/9) di Ruang 384 Gedung FTP UGM.
Kegiatan ini menghadirkan Danial Fatcurrahman, Ph.D., dosen pada Department of Agricultural Sciences, Food, Natural Resources and Engineering, University of Foggia, Italy. Dalam kuliah tersebut, Danial membawakan materi “Optical Non-destructive Assessment of Fresh Fruit and Vegetables” kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah Teknik Pascapanen. Kegiatan dimoderatori oleh Bayu Nugraha, Ph.D., salah satu dosen pengampu mata kuliah tersebut.
Belajar dari Pengembangan Teknologi di Italia
Dalam kuliah tersebut, Danial turut memperkenalkan potensi kerja sama dengan University of Foggia, mulai dari kegiatan penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D), kerja sama dengan industri, hingga pengembangan teknologi fluorescence engineering.

Italia merupakan salah satu negara penghasil buah dan sayuran terbesar di Uni Eropa. Besarnya produksi hortikultura tersebut menjadikan pengembangan teknologi untuk menjaga kualitas produk segar sebagai bagian penting dalam rantai pasok pertanian.
Danial juga membagikan pengalamannya dalam berbagai kerja sama penelitian dengan perusahaan di Eropa, khususnya terkait metode penyimpanan buah-buahan. Berbagai penelitian dilakukan untuk menemukan metode penyimpanan yang sesuai dengan karakteristik produk dan mampu menghasilkan kondisi serta kualitas yang diinginkan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi pascapanen membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Penelitian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi sektor pertanian dan pangan.
Menggabungkan Sains dan Bisnis untuk Menguatkan Komunitas
Danial mengajak mahasiswa untuk melihat pengembangan teknologi pertanian dari perspektif yang lebih luas dengan menghubungkan sains dan bisnis. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan melalui penelitian perlu memiliki peluang untuk diterapkan dalam kehidupan nyata sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
“Kita perlu menggabungkan sains dengan bisnis, karena dengan adanya bisnis, hasil dari sains dan teknologi dapat dikembangkan sekaligus mengaktifkan dan meningkatkan komunitas kita,” ujar Danial.
Menurut Danial, keterhubungan antara sains dan bisnis dapat membuka peluang agar inovasi yang dihasilkan dari penelitian tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi, tetapi dapat diterapkan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Bisnis berbasis inovasi juga dapat menjadi sarana untuk menggerakkan komunitas melalui penciptaan peluang dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan.
Perspektif tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan atau health awareness. Danial menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap produk pertanian yang sehat, aman, dan berkualitas, serta memiliki jaminan melalui standar dan pelabelan yang sesuai, menjadi peluang yang terus berkembang.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi pertanian memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi ekonomi dan kebutuhan konsumen.
Menjawab Tantangan Inspeksi Produk Segar

Dalam pemaparannya, Danial membahas pemanfaatan teknologi Near-Infrared (NIR) dan hyperspectral imaging sebagai pendekatan dalam melakukan autentikasi dan penilaian kualitas produk segar. Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan metode inspeksi yang dapat memberikan informasi mengenai karakteristik produk secara cepat dan tanpa merusak bahan.
Pembahasan tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi dalam rantai pasok buah dan sayuran. Produk pertanian memiliki karakteristik yang beragam dan dapat mengalami perubahan selama proses penyimpanan, transportasi, hingga distribusi. Oleh karena itu, diperlukan metode yang mampu membantu memastikan produk yang diterima konsumen tetap memenuhi kualitas dan standar yang diharapkan.
Selain aspek kualitas, Danial juga mengaitkan teknologi inspeksi dengan aspek sustainability dalam rantai pasok. Pengembangan teknologi pertanian perlu diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga mendukung sistem produksi dan distribusi yang lebih berkelanjutan.
Teknik Pertanian Membutuhkan Pendekatan Multidisipliner
Danial juga menekankan pentingnya kemampuan multidisipliner bagi mahasiswa teknik pertanian. Menurutnya, permasalahan yang dihadapi dalam dunia kerja akan semakin kompleks sehingga membutuhkan kemampuan untuk menggabungkan berbagai bidang keilmuan.
“Kita di Teknik Pertanian belajar berbagai bidang dan dituntut untuk multidisipliner, karena masalah yang akan kita hadapi selanjutnya di pekerjaan akan lebih kompleks sehingga dibutuhkan pendekatan multidisipliner,” jelas Danial.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena pengembangan teknologi pertanian tidak dapat dilepaskan dari berbagai aspek, mulai dari karakteristik bahan, proses pengolahan, teknologi sensor, analisis data, kebutuhan industri, hingga aspek ekonomi dan bisnis.
Melalui pendekatan multidisipliner, mahasiswa diharapkan mampu melihat sebuah persoalan secara lebih menyeluruh dan menghasilkan solusi yang tidak hanya tepat secara teknis, tetapi juga dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata.
Memanfaatkan Keunggulan Teknik Pertanian
Sementara itu, Bayu Nugraha, Ph.D. menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tidak mudah menyerah dalam menekuni bidang teknik pertanian. Menurutnya, salah satu keunggulan mahasiswa Teknik Pertanian terletak pada pemahaman terhadap karakteristik dan sifat bahan pertanian.
“Jangan putus asa dalam menekuni bidang kita. Banyak dari jurusan lain bisa membangun mesin untuk memprosesnya, akan tetapi kita lebih tahu tentang karakteristik dan sifat dari bahan yang akan diolah sehingga dapat menghasilkan inovasi, alat, atau metode yang lebih sesuai,” ujar Bayu.
Pemahaman terhadap karakteristik bahan menjadi aspek penting dalam pengembangan teknologi pascapanen. Sebuah mesin atau metode pengolahan tidak hanya perlu mampu bekerja secara teknis, tetapi juga harus disesuaikan dengan sifat bahan agar proses yang dilakukan dapat menghasilkan kualitas produk yang optimal.
Hal tersebut sekaligus menunjukkan posisi strategis ilmu Teknik Pertanian dalam pengembangan teknologi pascapanen. Pemahaman mengenai bahan pertanian dapat menjadi dasar untuk merancang mesin, metode, maupun sistem inspeksi yang lebih tepat sasaran.
Memperluas Wawasan Mahasiswa Pascapanen

Kuliah tamu “Quality Inspection Techniques for Fresh Products” memberikan perspektif internasional kepada mahasiswa mengenai perkembangan teknologi inspeksi produk segar sekaligus memperluas pemahaman mengenai peluang penerapan ilmu teknik pertanian.
Melalui materi “Optical Non-destructive Assessment of Fresh Fruit and Vegetables”, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab tantangan autentikasi, kualitas, dan keberlanjutan dalam rantai pasok buah dan sayuran.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat pembelajaran mata kuliah Teknik Pascapanen dengan menghadirkan pengalaman dan perspektif dari akademisi di tingkat internasional. Danial juga menunjukkan bahwa keilmuan teknik pertanian memiliki ruang pengembangan yang luas, tidak hanya dalam penelitian dan teknologi, tetapi juga dalam industri, bisnis, serta penguatan komunitas.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa inovasi teknologi pascapanen membutuhkan perpaduan antara pemahaman terhadap bahan pertanian, penguasaan teknologi, pendekatan multidisipliner, kebutuhan industri, serta kemampuan melihat peluang bisnis.