YOGYAKARTA – Tim Smart Agriculture Research Center (SmartAgri) Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) meluncurkan Sistem Fertigasi Cerdas Terjangkau bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Teratai Mekar di Pringgolayan, Condongcatur, Sleman, Jumat (9/10/2026). Peluncuran yang dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD) ini menjadi langkah nyata penguatan ketahanan pangan dan efisiensi pemanfaatan air serta pupuk pada lahan pekarangan perkotaan
Inisiatif terapan berbasis kemasyarakatan yang didukung melalui program Research Grant Bank Indonesia (RGBI) 2026 ini selaras dengan komitmen global UGM dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pemenuhan gizi keluarga dan kemandirian pangan lokal, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur lewat penerapam teknologi tepat guna terjangkau, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui sistem penyiraman hemat air yang adaptif, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan lewat sinergi akademisi, pemerintah kalurahan, dan kelompok tani.
Membumikan Inovasi Presisi yang Inklusif

Peluncuran teknologi ini turut dihadiri Dekan FTP UGM Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ketua DTPB FTP UGM Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., serta peneliti senior Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng. Koordinator SmartAgri DTPB UGM, Ir. Andri Prima Nugroho, Ph.D., menegaskan bahwa inovasi ini dirancang khusus untuk mematahkan stigma bahwa smart farming selalu rumit dan mahal.
“Kami berupaya merancang sistem fertigasi yang sederhana, hemat energi, dan berbiaya terjangkau agar para ibu anggota kelompok wanita tani dapat mengoptimalkan lahan pekarangan secara mandiri dan efisien,” ujarnya.
Solusi Keterbatasan Lahan dan Angin Segar Bagi Warga

Menyempitnya lahan pertanian akibat pesatnya pembangunan permukiman di kawasan Condongcatur menuntut hadirnya solusi pertanian presisi yang tidak memakan tempat. Melalui sistem fertigasi otomatis yang dirancang khusus oleh DTPB UGM, tanaman pekarangan dapat memperoleh asupan air dan nutrisi secara terukur, sehingga menghemat pemakaian air hingga tingkat optimal tanpa membebani biaya listrik maupun operasional harian warga.
Perwakilan Kalurahan Condongcatur, Murdiyanto, S.E., menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian dan ilmu terapan yang dibawa UGM ke wilayahnya.
“Di Condongcatur, lahan pertanian sudah semakin berkurang. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih atas bimbingan UGM untuk memanfaatkan ruang-ruang pekarangan kecil. Ibu-ibu KWT membutuhkan teknologi yang praktis, mudah digunakan, dan langsung memberikan hasil nyata,” tutur Murdiyanto.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua KWT Teratai Mekar, Ida Halimah. Bantuan teknologi presisi ini menjadi jawaban atas tantangan kelangkaan air dan mahalnya biaya pemeliharaan tanaman yang selama ini dihadapi para anggota.
“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan UGM kepada KWT Teratai Mekar. Bantuan ini sangat menjawab kebutuhan kami agar pemberian pupuk bisa tepat sasaran, tidak boros air, dan tetap terjangkau bagi warga,” ungkap Ida.
Dukungan moral juga datang dari Ketua Dukuh Dabag, Ahmad Sunaryo, yang memuji keikhlasan para pengurus KWT.
“Kebersamaan dan keikhlasan ibu-ibu inilah yang membuat KWT terus berkembang. Terima kasih UGM atas pendampingan yang tak terputus ini,” ujanya.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, SmartAgri DTPB FTP UGM membuktikan bahwa teknologi modern dapat hadir secara inklusif dan humanis guna menopang kemandirian pangan serta kesejahteraan masyarakat di kawasan perkotaan.