Pakar UGM Prof. Sigit Supadmo Tekankan Alokasi Air Berkeadilan di Sidang TKPSDA Serayu Bogowonto

WONOSOBO – Menghadapi ancaman kekeringan di akhir musim kemarau serta persiapan peralihan musim hidrometeorologi, Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (TKPSDA WS) Serayu Bogowonto menggelar Sidang Komisi II di Dewani View Resto & Cafe, Wonosobo, Selasa (20/10/2026). Forum strategis bertema “Mitigasi Kekeringan dan Kesiapsiagaan Menghadapi Banjir dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di WS Serayu Bogowonto” ini menghadirkan Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) sekaligus Pakar dari Pusat Kajian Modernisasi Irigasi dan Pertanian FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo, M.Eng., sebagai narasumber utama. 

Dalam sidang yang dihadiri oleh jajaran pemangku kepentingan lintas sektor, instansi pemerintah, dan perwakilan Komisi Irigasi, Prof. Sigit Supadmo memaparkan materi kunci berjudul “Strategi dan Teknologi Pertanian Hemat Air untuk Mitigasi Kekeringan”. Beliau menekankan pentingnya merubah paradigma pengelolaan irigasi dari sekadar teknik penyaluran air fisik menjadi pendekatan holistik berbasis budaya, keadilan alokasi, dan adaptasi perubahan iklim.

Irigasi Sebagai Identitas Bangsa dan Pentingnya Alokasi Berkeadilan

​Mengawali paparannya, Prof. Sigit menegaskan bahwa budaya pertanian beririgasi di Indonesia memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang dan telah menjadi bagian dari jati diri bangsa di wilayah muson tropis. Namun, di tengah keterbatasan sumber daya air dan meningkatnya kebutuhan sektor lain, porsi air untuk irigasi—yang saat ini menyerap sekitar 70% hingga 80% dari total pengelolaan sumber daya air—dituntut untuk dikelola secara jauh lebih efisien dan produktif.

​”Pengelolaan irigasi di wilayah sungai secara konseptual adalah upaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan sumber daya air yang terbatas, berbasis keadilan, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan,” tegas Prof. Sigit.

​Beliau menguraikan 7 Strategi Utama Pelaksanaan Pengelolaan Air di Aras Wilayah Sungai

  1. Membangun Neraca Air Transparan: Memanfaatkan Data Engineering dan Data Science untuk mengintegrasikan data ketersediaan, kebutuhan, kualitas air, serta variasi musiman. 
  2. Menetapkan Prioritas Alokasi Air Secara Adil: Menjamin kebutuhan dasar masyarakat, pangan, dan ekosistem melalui aturan alokasi yang disepakati bersama. 
  3. Pengelolaan Hulu hingga Hilir: Menghubungkan konservasi daerah tangkapan air, bendungan, jaringan irigasi, hingga perlindungan ekosistem sungai. 
  4. Meningkatkan Produktivitas Air (Water Productivity): Berfokus pada nilai tambah dan hasil panen per satuan air, bukan sekadar efisiensi teknis saluran. 
  5. Memperkuat Partisipasi, Kelembagan, dan Budaya: Melibatkan petani (P3A/GP3A/IP3A) dan lembaga wadah koordinasi (KOMIR, TKPSDA) sejak tahap perencanaan. 
  6. Membangun Ketahanan Terhadap Perubahan Iklim: Menyesuaikan Rencana Tata Tanam Global (RTTG) dan Rencana Tata Tanam Detail (RTTD) berbasis skenario iklim. 
  7. Mengukur Hasil dan Evaluasi Kebijakan: Menilai keberhasilan dari indikator keberlanjutan institusi, ekologi, dan kesejahteraan petani. 

Pengembangan Budaya “Arif Air” dan Teknologi Hemat Air

Salah satu poin penting yang di-highlight oleh Prof. Sigit Supadmo adalah pentingnya mengembalikan Budaya Arif Air dan Budaya Hemat Air. Menurutnya, “arif air” berarti memperlakukan dan menghormati air secara bijaksana, cermat, dan berilmu di seluruh aspek kehidupan masyarakat. 

Dalam implementasi praktis pertanian, Prof. Sigit mendorong penerapan kombinasi teknologi dan sistem budidaya ramah lingkungan, antara lain: 

  • Metode System of Rice Intensification (SRI) & Pola Tanam Terpadu (PTT): Mengoptimalkan pertumbuhan padi tanpa menggenangi lahan secara terus-menerus. 
  • Pengembangan Irigasi Mikro: Penerapan drip/sprinkler irrigation untuk hortikultura dan agro-ecowisata. 
  • Penggunaan Varietas Toleran Kekeringan: Pemilihan benih padi dan palawija yang adaptif terhadap stres air. 
  • Gerakan Irigasi Bersih (GIB): Menggerakkan partisipasi masyarakat desa dan petani dalam menjaga kebersihan serta fungsi hidrologis saluran irigasi. 

Kaji Kritis Upaya Pompanisasi dan Penggunaan Air Tanah

​Menanggapi maraknya praktik pemompaan saat kondisi kekeringan, Prof. Sigit Supadmo memberikan kajian kritis yang komprehensif baik pada pemanfaatan sumber air permukaan maupun air tanah. Beliau memberikan penegasan khusus terkait batasan dan prinsip dasar penggunaan pompa:

  • ​Larangan Pompanisasi di Jaringan Irigasi: Prof. Sigit menegaskan bahwa pompanisasi tidak boleh dilakukan di dalam jaringan irigasi, karena dapat merusak sistem alokasi air teratur, mengganggu hak pembagian air antarpetani, serta berpotensi memicu konflik sosial di tingkat P3A.
  • ​Pompa Air Permukaan (Sungai): Pengambilan air permukaan menggunakan pompa harus dikaji secara cermat berdasarkan debit andalan sungai pada saat kemarau, kebutuhan pengguna di bagian hilir, serta batas pemeliharaan aliran ekologis sungai—bukan semata-mata didasarkan pada kapasitas teknis mesin pompa.
  • ​Pompa Air Tanah: Memiliki risiko ekologis jauh lebih tinggi, seperti penurunan muka air tanah statis, pengeringan sumur warga, hingga amblesan tanah (subsidence). Pengambilannya wajib didasari uji kelayakan hidrogeologi (pumping test), pemantauan pemulihan akuifer, serta kepatuhan terhadap regulasi perizinan terbaru (Permen ESDM No. 4 Tahun 2026 dan PP No. 30 Tahun 2024).

Sinergi Lintas Sektor untuk Ketahanan Sumber Daya Air

Melalui keahlian dan gagasan akademis yang disampaikan Prof. Sigit Supadmo, perumusan Berita Acara dan Rekomendasi Sidang Komisi (Komisi Konservasi SDA, Komisi Pendayagunaan SDA, dan Komisi Pengendalian Daya Rusak Air) diharapkan mampu memberikan panduan konkret bagi pemerintah daerah dan pengelola wilayah sungai dalam menjaga keberlanjutan pasokan air irigasi, melindungi ketahanan pangan, serta memitigasi risiko bencana hidrometeorologi di WS Serayu Bogowonto. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses