Takalar, Sulawesi Selatan — Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), melaksanakan kegiatan survei dan pengambilan dataset harga pasar rumput laut di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada 25–27 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian Digital Aquaculture: Sustainable Seaweed Cultivation through Smart Technology and Automation (SeaTech)yang didukung oleh program Partnerships for Australia–Indonesia Research (PAIR).
Penelitian SeaTech dilaksanakan melalui kolaborasi lintas institusi yang mengintegrasikan keahlian di bidang akuakultur, teknik pertanian dan biosistem, sistem informasi, penginderaan jauh, serta pengembangan dashboard dan sistem pendukung keputusan. Tim peneliti terdiri dari Prof. Andi Dirpan (Universitas Hasanuddin), Prof. Lilik Sutiarso(Universitas Gadjah Mada), Prof. Nurjannah Nurdin (Universitas Hasanuddin), Prof. Mokhamad Nur Cahyadi (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), dan Dr. Derry Wijaya (Monash University).

Kegiatan survei dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., Guru Besar UGM, bersama tim peneliti yaitu Dr. Andri Prima Nugroho dan Ardan Wiratmoko, M.Sc. dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UGM. Pelaksanaan survei juga melibatkan pemangku kepentingan daerah, mulai dari unsur pemerintah hingga petani rumput laut sebagai pelaku utama di lapangan.
Survei difokuskan pada pengumpulan data harga pasar, dinamika rantai pasok, kondisi produksi, serta aspek kelembagaan, yang selanjutnya akan diintegrasikan ke dalam Government User Interface Dashboard. Dashboard ini dirancang sebagai sistem pendukung keputusan bagi pemerintah daerah untuk mendukung pengelolaan sektor rumput laut secara lebih terukur, transparan, dan berbasis data.
Prof. Lilik Sutiarso menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan tahapan krusial dalam membangun fondasi sistem pengambilan keputusan berbasis data.
“Survei ini bukan sekadar pengumpulan data, tetapi langkah awal untuk membangun dashboard pemerintah yang memiliki basis data lapangan yang kuat. Target kami adalah sistem yang tidak hanya menampilkan data, tetapi mampu mendukung pengambilan kebijakan secara operasional dan berbasis bukti,” tutur Prof. Lilik.
Ia menambahkan bahwa dashboard yang dikembangkan diarahkan untuk bertransformasi dari sekadar visual showcase menjadi decision-grade system, yang mampu menyajikan informasi strategis, mengidentifikasi risiko, serta memberikan dukungan nyata bagi perumusan kebijakan pemerintah daerah di sektor rumput laut.

Dari sisi pemerintah daerah, Pak Nasrudin Azis menyampaikan bahwa keberadaan dashboard terintegrasi akan sangat membantu dinas dalam menjalankan fungsi perencanaan dan pengawasan.
“Dengan data harga, produksi, dan kondisi lapangan yang terintegrasi dalam satu dashboard, pemerintah daerah dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kondisi riil di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, Pak Abdul Bakri Daeng Rewa, petani rumput laut di Desa Punaga, menilai bahwa transparansi data merupakan kebutuhan mendesak di tingkat petani.
“Petani sangat membutuhkan kejelasan informasi harga dan kondisi pasar. Sistem seperti ini dapat membantu kami menentukan waktu panen dan penjualan dengan lebih baik,” ungkapnya.
Pengembangan Government User Interface Dashboard dalam program SeaTech sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (No Poverty) melalui peningkatan transparansi informasi pasar dan harga yang mendukung kesejahteraan petani rumput laut, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth)dengan mendorong efisiensi usaha serta pertumbuhan ekonomi wilayah pesisir melalui digitalisasi rantai pasok, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan produksi dan limbah yang lebih efisien dan berorientasi ekonomi sirkular, SDG 13 (Climate Action) melalui integrasi data lingkungan dan risiko iklim untuk mendukung respons adaptif terhadap perubahan iklim, serta SDG 14 (Life Below Water) melalui pemantauan kondisi perairan dan penerapan praktik budidaya rumput laut yang berkelanjutan.