Depok, 20 Mei 2026 – Di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap pangan impor, Indonesia sesungguhnya masih menyimpan kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari mie lethek, uwi, gembili, hingga berbagai komoditas tradisional lainnya. Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Sigit Supadmo, mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali potensi pangan lokal tersebut dalam diskusi “Robohnya Lumbung Kami: Merawat Kembali Lumbung Pangan dan Budaya Gotong Royong Indonesia” di Universitas Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Foodbank of Indonesia (FOI) dan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini menjadi ruang refleksi nasional atas persoalan pangan Indonesia yang semakin kompleks. Tidak hanya menyoroti aspek produksi dan distribusi pangan, forum ini juga membahas memudarnya budaya kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas pangan yang selama ini menjadi bagian penting dalam sistem ketahanan pangan masyarakat Indonesia.
Dalam forum tersebut, Prof. Sigit mengingatkan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang sangat beragam dan berpotensi menjadi alternatif pangan masa depan. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan justru semakin terpinggirkan oleh dominasi pangan impor.
“Indonesia sebenarnya sangat kaya akan jenis pangan lokal yang perlu terus digalakkan. Di Yogyakarta misalnya, masih dapat ditemukan berbagai pangan tradisional seperti mie lethek, kentang hitam, uwi, dan gembili. Bahkan saya sendiri masih sering mengonsumsi berbagai pangan lokal tersebut sebagai menu sarapan,” ujarnya.
Menurut Prof. Sigit, keberagaman pangan lokal tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kemandirian pangan nasional. Ia menilai pengembangan pangan lokal perlu mendapat perhatian lebih besar di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap komoditas impor.
“Di sisi lain, kita masih melihat kecenderungan untuk mengimpor jenis pangan tertentu yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi, seperti gandum. Padahal Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan sebagai alternatif,” tambahnya.
Selain membahas diversifikasi pangan, Prof. Sigit juga menekankan pentingnya sistem irigasi sebagai fondasi utama produksi pangan, khususnya untuk komoditas padi dan palawija. Menurutnya, irigasi merupakan proses paling hulu dalam rantai produksi pangan berbasis biji-bijian sehingga keberhasilannya sangat menentukan produktivitas pertanian.
Ia menjelaskan bahwa sistem irigasi yang berkelanjutan harus dibangun di atas lima pilar utama, yaitu keandalan sumber daya air dan lahan, infrastruktur, tata kelola, kelembagaan, serta sumber daya manusia sebagai pelaku utama.
“Kelima pilar tersebut harus berkembang secara harmonis. Jika salah satu tertinggal, maka sistem irigasi tidak akan berjalan secara optimal dan hasil yang diperoleh juga tidak akan seimbang,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sigit juga menyoroti peran Gerakan Irigasi Bersih (GIB) sebagai upaya kolektif dalam menjaga keberlanjutan sistem irigasi. Gerakan ini berfokus pada pemeliharaan infrastruktur irigasi, baik pada jaringan tersier maupun jaringan utama, guna memastikan saluran irigasi tetap berfungsi dengan baik.
Menurutnya, salah satu tujuan utama GIB adalah menjaga kebersihan jaringan irigasi dari sampah dan limbah yang berpotensi mencemari sumber air pertanian. Upaya tersebut tidak hanya penting untuk mendukung kelancaran distribusi air, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas dan keamanan pangan yang dihasilkan.
“Jaringan irigasi yang bersih akan membantu menjaga kualitas air yang digunakan dalam proses budidaya. Dengan demikian, mutu hasil pertanian juga dapat tetap terjaga,” ungkapnya.
Melalui diskusi yang berlangsung dalam semangat Hari Kebangkitan Nasional tersebut, Prof. Sigit berharap perhatian terhadap pangan lokal dan pengelolaan irigasi dapat terus ditingkatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Menurutnya, ketahanan pangan nasional tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga oleh kemampuan bangsa dalam memanfaatkan sumber daya lokal, memperkuat budaya gotong royong, serta menjaga keberlanjutan sistem pendukung pertanian dari hulu hingga hilir.
Kegiatan “Robohnya Lumbung Kami” menjadi pengingat bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menyangkut pelestarian pengetahuan lokal, solidaritas sosial, dan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan sistem pangan Indonesia di masa depan.