Kuliah Tamu Internasional Kupas Peluang Agriculture Engineering Masa Depan

Yogyakarta, 26 Mei 2026 – Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) kembali memperkuat eksposur internasional mahasiswa melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional bertajuk “The Future of Agricultural Engineering: Challenges and Potentials in the Era of IR 4.0.” Kegiatan ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Nazmi Mat Nawi, Head of Department of Biological and Agricultural Engineering, Faculty of Engineering, Universiti Putra Malaysia (UPM), sebagai pembicara utama.

Kuliah tamu yang berlangsung di lingkungan DTPB FTP UGM ini dimoderatori oleh Ir. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Eng., Ph.D., dosen pengampu mata kuliah Profesi Keteknikan. Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan global mengenai perkembangan teknik pertanian, khususnya menghadapi transformasi sektor pertanian menuju era digital dan Revolusi Industri 4.0.

Penguatan Eksposur Global Mahasiswa

Dr. Nazim Mat Nawi (Kiri) sebagai narasumber dan Ir. Andri Prima Nugroho (kanan) sebagai moderator

Kegiatan dibuka oleh Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM, Dr. Arifin Dwi Saputro, yang menekankan pentingnya memperluas wawasan global mahasiswa sebagai bagian dari komitmen DTPB FTP UGM pasca memperoleh akreditasi internasional.

“Salah satu tanggung jawab kami setelah memperoleh akreditasi internasional adalah memastikan mahasiswa mendapatkan eksposur global. Kuliah tamu seperti ini menjadi sarana untuk memperluas wawasan serta menghadirkan perspektif baru mengenai perkembangan profesi keteknikan pertanian di masa depan,” ungkapnya.

Menurut Dr. Arifin, interaksi dengan akademisi dari berbagai negara menjadi langkah penting dalam mempersiapkan lulusan yang adaptif dan mampu bersaing pada tingkat global.

Menjadi Engineer yang Mampu Memecahkan Masalah

Pada sesi pembuka, Prof. Nazmi mengawali kuliah dengan mengajak mahasiswa memahami identitas dasar seorang insinyur.

“Kita harus memahami diri kita sendiri. Kita adalah engineer yang dilatih secara saintifik, matematik, dan statistik. Dengan bekal tersebut, tugas kita adalah memecahkan masalah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa seorang insinyur tidak hanya dituntut menciptakan teknologi yang dapat berfungsi, tetapi juga harus memastikan teknologi tersebut bekerja secara optimal, efisien, memiliki nilai ekonomi, serta berkelanjutan.

“Sebagai engineer kita menciptakan mesin yang tidak hanya berfungsi, tetapi harus bekerja pada level tertinggi—optimal dalam penggunaan, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Agriculture 4.0 Dibangun dari Infrastruktur Digital

Pemaparan materi oleh Dr. Nazmi

Memasuki materi utama, Prof. Nazmi menjelaskan bahwa Agriculture 4.0 merupakan transformasi sistem pertanian yang dibangun di atas infrastruktur digital yang saling terhubung.

Konsep tersebut menghadirkan sistem pertanian di mana lahan dapat terkoneksi melalui berbagai sensor sehingga memungkinkan pemantauan kondisi secara real-time dari jarak jauh. Selain itu, teknologi seperti drone, unmanned vehicle, hingga autonomous tractor menjadi bagian penting dalam ekosistem pertanian modern.

Namun demikian, Prof. Nazmi menekankan bahwa transformasi menuju pertanian digital masih menghadapi berbagai tantangan besar.

Beberapa tantangan utama implementasi Agriculture 4.0 yang disampaikan meliputi:

  1. Hardware, kebutuhan sensor yang mampu menghasilkan data akurat dan andal;
  2. The Brain, kemampuan analisis untuk mengolah dan menginterpretasikan data;
  3. People, kebutuhan sumber daya manusia yang menguasai elektronik, pemrograman, dan data science;
  4. Mobility, kemampuan sistem untuk dipantau dan diakses dari berbagai lokasi;
  5. Infrastructure, investasi jangka panjang untuk mendukung ekosistem smart farming secara berkelanjutan.

Menurutnya, teknologi pertanian masa depan tidak hanya ditentukan oleh perangkat canggih, tetapi juga kemampuan manusia dalam memanfaatkan dan mengelola data secara tepat.

Mahasiswa Antusias Diskusikan Peluang Global

Diskusi tanya jawab bersama mahasiswa mengenai peluang riset dan beasiswa

Kuliah tamu berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa. Pada sesi diskusi, mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan terkait peluang penelitian, skema beasiswa, kerja sama riset internasional, prospek karier agricultural engineer di Malaysia, hingga strategi menghadapi capstone project yang menjadi salah satu syarat kelulusan mahasiswa S1 Teknik Pertanian UGM.

Menanggapi pertanyaan mahasiswa mengenai pemilihan proyek, Prof. Nazmi memberikan pesan yang memotivasi peserta.

“Saat memilih proyek Capstone design, ambillah tantangan yang paling sulit. Tantang dirimu sendiri,” pesannya.

Di akhir sesi, Prof. Nazmi juga menyampaikan refleksi mengenai tantangan profesi agricultural engineer di tengah dinamika dunia kerja saat ini. Menurutnya, bidang teknik pertanian memang belum menjadi disiplin yang populer dibandingkan bidang lain, sehingga mahasiswa perlu aktif membangun identitas dan menunjukkan kapasitasnya.

“Di tengah persaingan dunia kerja, agricultural engineering mungkin belum menjadi bidang yang populer. Karena itu, kalian harus mampu mempromosikan diri, keahlian, dan program studi kalian agar bidang ini semakin dikenal,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun teknik pertanian bukan bidang yang selalu menjadi pusat perhatian atau dianggap memiliki kontribusi ekonomi terbesar, perannya sangat fundamental bagi keberlanjutan sistem pangan.

“Mungkin kita bukan bidang yang mainstream, tetapi kita adalah tulang punggung ketahanan pangan,” tutup Prof. Nazmi.

Melalui kuliah tamu internasional ini, DTPB FTP UGM kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus memperkuat kapasitas mahasiswa menghadapi masa depan teknik pertanian di era transformasi digital. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya DTPB FTP UGM menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri pertanian masa depan. Sejalan dengan pesan Prof. Nazmi, kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan perkembangan teknologi Agriculture 4.0, tetapi juga memperkuat kesadaran mahasiswa akan peran strategis teknik pertanian sebagai backbone of food security. Di tengah perubahan lanskap dunia kerja, lulusan teknik pertanian dituntut tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menunjukkan kapasitas, keahlian, dan kontribusinya dalam menjawab tantangan ketahanan pangan global.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses