Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM Luncurkan Desa Pro-Lingkungan dan Pro-Iklim Berbasis Budaya Mataraman di Sriharjo

Bantul, 30 Juni 2026 – Menjawab tantangan perubahan iklim yang semakin nyata sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat desa, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) meluncurkan program Desa Pro-Lingkungan dan Pro-Iklim di Desa Sriharjo, Kabupaten Bantul. Kegiatan yang dipadukan dengan forum diskusi bersama masyarakat ini menjadi langkah awal dalam menyusun program pemberdayaan berbasis potensi lokal, pelestarian lingkungan, dan budaya Mataraman sebagai fondasi pembangunan desa yang berkelanjutan.

Program ini diselenggarakan oleh Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) FTP UGM, Pusat Kajian Modernisasi Irigasi dan Pertanian (PK-MIP), serta Laboratorium Teknik Sumber Daya Lahan dan Air (TSLA) DTPB FTP UGM di Pendhapa Srikeminut, Desa Sriharjo, Selasa (30/6). Desa Sriharjo merupakan salah satu desa binaan DTPB FTP UGM yang selama bertahun-tahun menjadi lokasi berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, pemberdayaan petani, dan pengembangan sistem pertanian berkelanjutan.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Gary R. Sands dari Department of Bioproducts and Biosystems Engineering, University of Minnesota, Amerika Serikat, sebagai dosen tamu. Hadir pula jajaran akademisi DTPB FTP UGM, yaitu Ketua Pusat Kajian Modernisasi Irigasi dan Pertanian (PK-MIP) Dr. Ansita Gupitakingkin Pradipta, Kepala Laboratorium Teknik Sumber Daya Lahan dan Air (TSLA) Dr. Hanggar Ganara Mawandha, serta Dr. Muhamad Khoiru Zaki. Turut hadir Ketua Gerakan Irigasi Bersih (GIB), Suyitno, S.T., M.T., yang selama ini aktif menginisiasi berbagai gerakan pelestarian irigasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis budaya di Kabupaten Bantul. Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan perangkat daerah Kabupaten Bantul, Lurah Sriharjo Titik Istiwayatun, tokoh masyarakat, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dalam sesi diskusi bersama masyarakat, Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif menegaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi melalui penguatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Menurutnya, pembangunan desa yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis, tetapi juga harus bertumpu pada nilai-nilai budaya lokal yang telah lama hidup dan berkembang di tengah masyarakat Yogyakarta.

“Saat ini kita melihat iklim sudah mulai berubah. Karena itu kita perlu belajar bagaimana menyelaraskan kembali kehidupan masyarakat dengan membangun kesadaran yang pro-lingkungan dan pro-iklim berbasis budaya Mataraman Yogyakarta,” ujarnya.

Prof. Sigit menjelaskan bahwa peluncuran Desa Pro-Lingkungan dan Pro-Iklim bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi langkah awal untuk menyusun arah pengembangan desa secara partisipatif. Melalui forum tersebut, masyarakat diajak memetakan kebutuhan, potensi, serta berbagai kegiatan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan desa yang adaptif terhadap perubahan iklim.

“Hari ini kita mulai memetakan keinginan masyarakat untuk berkegiatan apa supaya bisa kita akomodasi dalam program-program ke depan,” tambahnya.

Sebelumnya, Dukuh Wunut, Sugiyanto, menyampaikan bahwa Dusun Srikeminut telah hampir dua dekade mengembangkan kawasan pendhapa dan lingkungan desa sebagai ruang pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, berbagai pendampingan yang dilakukan DTPB FTP UGM sejak pascagempa tahun 2006 telah membawa perubahan positif, khususnya dalam penerapan teknologi pertanian.

“Kami bermimpi teknologi irigasi yang sudah ada dapat menjadi bagian dari percepatan pembangunan masyarakat. Kami ingin memanfaatkan potensi budaya dan alam yang kami miliki. Terima kasih kepada Prof. Sigit yang sejak pascagempa 2006 telah mendampingi masyarakat melalui pelatihan budidaya palawija. Kini masyarakat mulai mengenal teknologi pertanian seperti hidroponik dan sistem irigasi menggunakan selang. Kami berharap kerja sama ini dapat terus menjaga warisan budaya leluhur kami, termasuk kawasan terasering yang menjadi bagian dari heritage Dusun Srikeminut,” ungkapnya.

Lurah Sriharjo, Titik Istiwayatun, turut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang dibangun bersama DTPB FTP UGM dan mitra internasional. Menurutnya, berbagai program pembangunan di Sriharjo telah berjalan, namun penanganan aspek lingkungan masih dilakukan secara parsial sehingga diperlukan perencanaan yang lebih terpadu.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Prof. Lilik dan Prof. Gary yang telah membawa program ini ke Sriharjo. Kami berharap pertemuan ini menjadi ruang diskusi bersama untuk menyusun skema penanganan lingkungan yang lebih terintegrasi, mulai dari persoalan erosi sungai hingga pengembangan agroforestri di wilayah Sriharjo,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Gary R. Sands menyampaikan apresiasinya atas kesempatan berdiskusi bersama masyarakat Sriharjo. Ia menilai bentang alam karst Sriharjo memiliki karakteristik yang unik, sementara tantangan perubahan iklim juga tengah dihadapi oleh sektor pertanian di Minnesota.

“Terima kasih telah mengundang saya dan memberikan kesempatan mengunjungi Desa Sriharjo dengan bentang alam karst yang sangat indah. Minnesota juga menghadapi tantangan dalam menjaga produktivitas pertanian akibat perubahan iklim. Saya berharap melalui pertemuan ini kita dapat saling bertukar pengalaman, pengetahuan, dan gagasan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak,” tuturnya.

Turut memberikan pandangan Tantra dari Bumi Langit Institute, yang menekankan pentingnya membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam.

“Tantangan kita adalah bagaimana mereduksi ilmu agar manusia dan alam tidak dipandang sebagai dua entitas yang terpisah, tetapi menjadi satu kesatuan yang saling menopang,” jelasnya.

Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Woro, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan Desa Pro-Lingkungan dan Pro-Iklim di Sriharjo. Ia berharap seluruh kegiatan masyarakat dapat selaras dengan Program Kampung Iklim (ProKlim), sehingga mampu memperkuat upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat desa.

Penanaman Pohon Aren Secara Seremonial di Bantaran Sungai Oyo

Sebagai simbol dimulainya program, seluruh peserta melaksanakan penanaman pohon aren di bantaran Sungai Oyo. Penanaman tersebut menjadi wujud komitmen bersama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah kalurahan, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mengembangkan pembangunan desa yang berakar pada nilai-nilai budaya Mataraman.

Foto Bersama Para Petani dan Penggiat Lingkungan di Desa Sriharjo

Melalui peluncuran Desa Pro-Lingkungan dan Pro-Iklim ini, DTPB FTP UGM berharap dapat membangun model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, pengelolaan sumber daya alam, dan kearifan lokal. Kolaborasi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas seperti Gerakan Irigasi Bersih (GIB), serta masyarakat desa diharapkan mampu melahirkan model pembangunan desa yang tangguh terhadap perubahan iklim, berwawasan lingkungan, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses