Yogyakarta, 20 Agustus 2026 – Peningkatan nilai tambah kakao membutuhkan kemampuan untuk mengembangkan bahan baku menjadi beragam produk olahan yang memiliki kualitas, karakteristik, dan daya saing di pasar. Karena itu, penguasaan formulasi, teknologi pengolahan, serta keterampilan praktik menjadi bagian penting dalam mendorong hilirisasi komoditas kakao.
Aspek tersebut menjadi fokus hari kedua Pelatihan Peningkatan Kapasitas dan SDM Kakao Berkelanjutan yang diselenggarakan melalui kolaborasi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) dan Cocoa Teaching and Learning Industry (CTLI) UGM, bersama Kementerian Perindustrian dan FAST (Forest, Agriculture and Sustainable Trade) Project United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, serta mitra terkait. Kegiatan berlangsung pada 19–21 Agustus 2026, dengan rangkaian pembelajaran yang memadukan materi teori dan praktik.
Setelah memperoleh pembekalan mengenai pascapanen dan teknologi pengolahan pada hari pertama, peserta pada hari kedua diarahkan untuk memahami pengembangan produk olahan kakao sekaligus menerapkan pengetahuan tersebut melalui praktik pengolahan cokelat.
Mengembangkan Kakao Menjadi Produk Bernilai Tambah

Pembelajaran hari kedua berfokus pada pengembangan produk olahan kakao, termasuk pemanfaatan teknologi pengolahan, formulasi produk, penggunaan bahan tambahan fungsional, serta pengembangan berbagai produk turunan kakao.
Materi pada hari kedua disampaikan oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P. dan Dr. Arima Diah Setyowati, S.T.P., M.Sc.
Kedua dosen FTP UGM tersebut memberikan pembekalan mengenai pengembangan produk kakao dengan menekankan pentingnya pemahaman terhadap formulasi, karakteristik bahan, serta proses pengolahan dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan.
Pembelajaran tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa pengembangan produk kakao tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengolah bahan, tetapi juga membutuhkan kreativitas dalam menciptakan diversifikasi produk serta kemampuan mengendalikan proses agar mutu produk tetap terjaga.
Teori Dilanjutkan dengan Praktik

Untuk memperkuat pemahaman peserta, materi dilanjutkan dengan sesi praktik pengolahan berbagai produk berbasis cokelat.
Peserta mempraktikkan pembuatan tablea atau minuman cokelat, proses tempering dan pembuatan cokelat batang yang diperkaya dengan senyawa aktif, serta pembuatan praline.
Melalui praktik tersebut, peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan secara langsung. Tahapan praktik juga memberikan pengalaman mengenai proses pengolahan dan pengendalian karakteristik produk agar dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang sesuai.
Sesi praktik difasilitasi oleh Dwi Ayuni, Ph.D.; Hilda Maya Sintia Dewi, S.T.P., M.Sc.; Maulana Muhammad Shodiq, S.T.P., M.Sc.; Haida Setyani, S.T.P., M.Sc.; Shafa Anindha Nabila, S.T.P., M.Sc.; dan Ridwansyah Micko Perdhana, S.T.P.
Peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan praktik sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberikan keterampilan teknis yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Meningkatkan Kualitas untuk Naik Kelas

Pengembangan produk juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya peningkatan kualitas. Produk olahan kakao yang memiliki nilai tambah membutuhkan konsistensi mutu dan kemampuan untuk terus melakukan inovasi.
Hal tersebut disampaikan Riris Marito, Ketua Tim Pengembangan Industri Teh dan Kopi Kementerian Perindustrian, dalam sesi penutupan pelatihan.
“Kita harus naik kelas, tidak hanya mengandalkan kualitas, tapi kita harus meningkatkan kualitas,” ujar Riris Marito.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa peningkatan daya saing tidak cukup hanya dengan mempertahankan kualitas yang telah dimiliki. Pelaku industri juga perlu terus melakukan peningkatan agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi tuntutan pasar dan berkembang secara berkelanjutan.
Memperkuat Kolaborasi UNDP, UGM, dan Kemenperin

Sesi penutupan juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kolaborasi antarlembaga dalam pengembangan produk kakao Indonesia.
Wayan, perwakilan FAST Project UNDP, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin dan berharap kolaborasi antara UNDP, UGM, dan Kementerian Perindustrian dapat terus berlanjut.
“Terima kasih atas kerja sama ini, dengan adanya pelatihan ini semoga kerja sama antara UNDP, UGM dan Kemenperin dapat terus terjalin dalam mengembangkan produk kakao ini,” ungkap Wayan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga pembangunan tersebut menjadi penting untuk menghubungkan pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan kebutuhan pengembangan industri di lapangan.
Harapan dan Semangat Peserta untuk Terus Berkembang

Sementara itu, Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat terus dikembangkan oleh para peserta.
“Kita sangat berharap akan perkembangan Bapak Ibu dari pelatihan ini,” ujar Dr. Arifin.
Harapan tersebut menjadi penutup rangkaian pembelajaran yang memadukan teori dan praktik. Peserta diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengembangkan produk kakao dengan kualitas yang lebih baik dan nilai tambah yang lebih tinggi.
Selain memperoleh pembekalan teori dan praktik pengolahan kakao, peserta juga dinilai berdasarkan keaktifan selama mengikuti rangkaian pelatihan. Penilaian tersebut menjadi salah satu komponen evaluasi peserta, bersama dengan hasil pretest dan posttest yang dilakukan selama kegiatan.
Berdasarkan hasil penilaian, Annissa Siti Fatimah Ahmad berhasil meraih peringkat pertama, disusul Rafi’ Yazid Muzaki pada peringkat kedua, dan Kris Setyo Wiyono pada peringkat ketiga.
Ketiga peserta tersebut menjadi peserta dengan capaian terbaik dalam keseluruhan penilaian pelatihan. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman materi juga diiringi dengan partisipasi aktif selama mengikuti proses pembelajaran.
Penilaian keaktifan menjadi salah satu upaya untuk mendorong peserta agar tidak hanya hadir dan menerima materi, tetapi juga terlibat secara aktif dalam diskusi, praktik, dan berbagai aktivitas selama pelatihan berlangsung.

Mendorong Hilirisasi Kakao Indonesia
Hari kedua pelatihan menunjukkan bahwa hilirisasi kakao membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengolah bahan baku. Penguasaan formulasi, teknologi, praktik pengolahan, inovasi produk, dan perhatian terhadap kualitas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan produk kakao.
Melalui kolaborasi FTP UGM, UNDP Indonesia, dan Kementerian Perindustrian, pelatihan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat kapasitas SDM sekaligus mendorong pengembangan produk kakao Indonesia agar semakin berkualitas, inovatif, dan memiliki nilai tambah.
