Yogyakarta, 19 Agustus 2026 – Pengembangan industri kakao tidak cukup hanya mengandalkan mesin dan teknologi. Sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menangani bahan baku, proses pascapanen, hingga pengolahan menjadi faktor penting untuk menghasilkan produk kakao yang berkualitas dan memiliki daya saing.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas dan SDM Kakao Berkelanjutan yang diselenggarakan melalui kolaborasi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) dan Cocoa Teaching and Learning Industry (CTLI) UGM, bersama Kementerian Perindustrian dan FAST (Forest, Agriculture and Sustainable Trade) Project United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, serta mitra terkait. Kegiatan berlangsung pada 19–21 Agustus 2026, dengan rangkaian pembelajaran yang memadukan materi teori, praktik dan kunjungan lapangan.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai berbagai aspek teknologi pengolahan kakao dan penanganan pascapanen sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas bahan baku sekaligus menghasilkan produk olahan yang lebih baik.
SDM Menjadi Kunci Pengembangan Industri Kakao

Merrijantij Punguan Pintaria, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar memberikan sambutan pembuka
Pembukaan pelatihan menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia dalam mendukung perkembangan industri kakao. Merrijantij Punguan Pintaria, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar menyampaikan bahwa kemajuan industri tidak dapat hanya bergantung pada ketersediaan mesin dan teknologi.
“Industri tidak hanya mengandalkan mesin, tapi sumber daya manusia juga tak kalah penting untuk pengembangan industri kita,” ujar Merrijantij Punguan Pintaria.
Menurutnya, teknologi perlu didukung oleh SDM yang mampu memahami proses, mengoperasikan peralatan, serta melakukan pengembangan dan perbaikan dalam kegiatan produksi.
Hal tersebut menjadi landasan penting dalam pelatihan, mengingat pengolahan kakao membutuhkan pemahaman yang saling terhubung antara karakteristik bahan, proses pascapanen, teknologi pengolahan, dan kualitas produk akhir.
UNDP Dorong Pengembangan Potensi Kakao Indonesia

Laksmi Banowati, National Project Manager UNDP Indonesia FAST Project menyampaikan apresiasi pada semangat peserta yang telah hadir dalam pelatihan ini
Ibu Laksmi Banowati, National Project Manager UNDP Indonesia FAST Project (Forest, Agriculture and Sustainable Trade), menjelaskan bahwa UNDP terus mendorong pengembangan potensi komoditas kakao Indonesia melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk institusi pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Laksmi juga mengapresiasi keterlibatan peserta perempuan dalam pelatihan. Menurutnya, kehadiran banyak perempuan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor kakao.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kakao Indonesia secara berkelanjutan, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga melalui peningkatan kemampuan pengolahan dan pengembangan produk.
Mendorong Peserta untuk Naik Kelas

Sambutan dari Prof. Wiratni dan Dr. Arifin Dwi Saputro dalam pembukaan acara
Penguatan kompetensi tersebut diarahkan untuk membantu peserta meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan produk olahan kakao yang memiliki nilai tambah. Peningkatan kapasitas tidak hanya penting dari sisi penguasaan teknologi pengolahan, tetapi juga dalam melihat potensi kakao untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih berkualitas dan memiliki peluang untuk dikomersialkan.
Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., selaku koordinator pelatihan, menyampaikan bahwa pelatihan diharapkan dapat mendorong peserta untuk meningkatkan kualitas produk hingga mampu mengikuti standar yang lebih tinggi.
“Dengan adanya pelatihan ini harapannya Bapak Ibu semua dapat naik kelas, dalam artian dapat menghasilkan produk cokelat mengikuti standar dunia,” ujar Dr. Arifin.
Pesan tersebut menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi bagian penting dalam proses pengembangan industri kakao. Pengetahuan mengenai bahan dan teknologi perlu diterapkan secara tepat agar dapat menghasilkan produk yang memiliki kualitas dan daya saing.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Usaha UGM, Prof. Ir. Wiratni, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menekankan pentingnya melihat potensi hasil pelatihan tidak hanya dari sisi peningkatan keterampilan, tetapi juga peluang pengembangan usaha. Penguasaan teknologi dan kemampuan mengolah kakao menjadi produk bernilai tambah diharapkan dapat membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan produk secara lebih luas.
Dalam konteks pengembangan kakao, peningkatan kapasitas tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat keterhubungan antara teknologi, kualitas produk, dan peluang usaha. Dengan demikian, kakao tidak hanya dipandang sebagai komoditas bahan baku, tetapi juga sebagai sumber produk olahan yang dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Kolaborasi antara UGM, UNDP, dan Kementerian Perindustrian melalui pelatihan ini diharapkan dapat mendorong peserta untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mampu menghasilkan produk kakao yang semakin berkualitas, inovatif, dan memiliki daya saing.
Membekali Peserta dari Pascapanen hingga Teknologi Pengolahan

Pada hari pertama, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan teknologi pengolahan kakao dan penanganan pascapanen. Materi mencakup proses fermentasi dan pengeringan, penyangraian dan pengupasan biji kakao, metode pengolahan cokelat, serta pemahaman mengenai karakteristik bahan dalam proses pengolahan.
Pembelajaran tersebut disampaikan oleh dosen-dosen FTP UGM yang memiliki keahlian di bidang teknologi pangan, pascapanen, dan pengolahan hasil pertanian, yaitu Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc.; Dr. Hanim Zuhrotul Amanah, S.T.P., M.P., Ph.D.; Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc.; Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc.; dan Dr. Novita Erma Kristanti, S.T.P., M.P.
Materi dirancang untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya menjaga kualitas kakao sejak tahap pascapanen hingga proses pengolahan. Setiap tahapan memiliki pengaruh terhadap karakteristik bahan dan mutu produk yang dihasilkan.
Melalui pembelajaran tersebut, peserta diharapkan mampu memahami prinsip dasar pengolahan kakao sekaligus mengidentifikasi berbagai aspek yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih konsisten.
Membangun Fondasi Pengembangan Kakao Berkelanjutan

Rangkaian kegiatan hari pertama menjadi dasar bagi peserta untuk memasuki pembelajaran dan praktik pengembangan produk pada hari berikutnya. Pemahaman mengenai bahan baku, pascapanen, serta teknologi pengolahan menjadi bekal penting sebelum peserta mempelajari lebih lanjut mengenai diversifikasi dan pengembangan produk olahan kakao.
Melalui kegiatan ini, FTP UGM dan UNDP Indonesia mendorong penguatan kapasitas SDM sebagai bagian dari upaya membangun industri kakao yang lebih berkualitas, bernilai tambah, dan berkelanjutan.