Merauke, Papua Selatan — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB), Fakultas Teknologi Pertanian UGM, mengembangkan demplot pertanian terpadu seluas 2.500 m² di Kawasan Transmigrasi (KT) Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kegiatan tersebut diarahkan pada penerapan konservasi tanah dan air serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian secara berkelanjutan.
Pengembangan demplot menjadi bagian dari kerja sama antara UGM dan Kementerian Transmigrasi dalam mendukung pengembangan potensi kawasan transmigrasi. Melalui pendekatan Teknik Pertanian dan Biosistem, kegiatan difokuskan pada pengelolaan sumber daya lahan dan air sebagai bagian penting dalam mendukung produktivitas dan keberlanjutan kegiatan pertanian di KT Muting.

Mengoptimalkan Potensi Lahan dan Air di Kawasan Transmigrasi
Kawasan Transmigrasi Muting telah dihuni oleh masyarakat transmigran dari berbagai wilayah, khususnya Pulau Jawa, sejak sekitar tahun 1990. Seiring perkembangannya, kawasan tersebut memiliki potensi pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Kondisi lingkungan KT Muting dengan curah hujan yang relatif tinggi serta ketersediaan sumber daya air menjadi potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan pertanian. Di sisi lain, pengelolaan air dan lahan tetap memerlukan pendekatan yang tepat agar sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, TEP 1 UGM mengembangkan demplot sebagai lokasi percontohan untuk menerapkan pendekatan pengelolaan lahan dan air secara terpadu. Demplot juga menjadi sarana untuk mengidentifikasi kondisi lapangan, menguji pendekatan pengelolaan sumber daya, serta memperkenalkan praktik yang dapat diterapkan dan dikembangkan bersama masyarakat.
TEP 1 UGM terdiri atas Tri Ariani, S.T.P. pada bidang ekonomi pertanian, Khulaimi, S.P. pada bidang agronomi, Ilham Mubarok, S.T.P. pada bidang sumber daya air dan perkebunan, Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si. pada bidang geografi dan pemetaan lahan, serta Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc. pada bidang peternakan.
Kolaborasi lintas bidang tersebut mendukung pemetaan potensi dan permasalahan kawasan secara lebih menyeluruh. Sementara itu, bidang Teknik Pertanian dan Biosistem berperan dalam penguatan aspek pengelolaan sumber daya lahan dan air, khususnya melalui penerapan konservasi tanah dan air.
Demplot sebagai Percontohan Konservasi Tanah dan Air

Salah satu bagian utama kegiatan adalah pengembangan demplot konservasi tanah dan air berupa embung konservasi skala kecil yang dibangun pada area lahan pertanian bersamaan dengan uji coba penanaman Padi Unggul Varietas Gamagora (Hasil Penelitian Tim Fakultas Pertanian UGM) dengan betode Tabur Bening langsung atau Tabela dan penanaman rumput pakan ternak berkualitas tinggi.
Keberadaan embung konservasi diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan air di tingkat lahan. Air yang tertampung dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan kegiatan pertanian, sementara keberadaan tampungan juga berperan dalam mengoptimalkan pemanfaatan air hujan yang tersedia di kawasan.
Kondisi KT Muting yang memiliki kedalaman air tanah relatif dangkal menunjukkan adanya potensi sumber daya air yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kawasan. Selain embung konservasi, di kawasan tersebut juga telah terdapat sejumlah tampungan air permukaan memanjang (long storage) yang dibangun untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat.
Keberadaan berbagai bentuk tampungan air tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem pengelolaan air yang sesuai dengan karakteristik kawasan. Integrasi antara pemanenan air hujan, penyimpanan air, dan pemanfaatan air pada lahan pertanian menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung ketahanan sumber daya air di kawasan transmigrasi.
Mendorong Pengelolaan Pertanian Berbasis Sumber Daya Lokal

Selain pengembangan infrastruktur konservasi, TEP 1 UGM juga melakukan identifikasi terhadap kondisi lahan dan sumber daya yang tersedia di KT Muting. Identifikasi tersebut diperlukan untuk memahami karakteristik kawasan sekaligus menentukan pendekatan pengelolaan yang sesuai dengan kondisi setempat.
Pendekatan berbasis kondisi lokal menjadi penting karena pengembangan kawasan pertanian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana sumber daya lahan dan air dapat dimanfaatkan secara efisien dalam jangka panjang.
Melalui demplot, masyarakat dapat melihat secara langsung penerapan pengelolaan lahan dan air pada skala lapangan. Model percontohan tersebut diharapkan dapat menjadi media pembelajaran sekaligus dasar untuk pengembangan praktik pengelolaan sumber daya yang lebih luas di kawasan transmigrasi.
Penguatan Ekonomi Hijau melalui Pengelolaan Lahan dan Air

Pengembangan demplot di KT Muting mengangkat pendekatan ekonomi hijau melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam. Dalam pendekatan ini, pengembangan aktivitas pertanian diarahkan untuk tetap memperhatikan efisiensi pemanfaatan lahan dan air serta keberlanjutan sumber daya.
Melalui integrasi konservasi tanah dan air dengan pengelolaan lahan pertanian, kegiatan TEP 1 UGM diharapkan dapat mendukung pengembangan KT Muting secara lebih berkelanjutan. Pengelolaan sumber daya air yang tepat juga menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pertanian yang adaptif terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat kontribusi UGM dalam mendukung pengembangan kawasan transmigrasi melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Ke depan, hasil pengembangan demplot diharapkan dapat menjadi salah satu contoh penerapan teknologi dan pengelolaan sumber daya lahan dan air yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik kawasan transmigrasi lainnya di Papua Selatan.