tpb@ugm.ac.id +62-274-563-542
"English "Indonesia
Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Bersama ICCTF Kombinasikan Smart Farming dan Budidaya Padi Metode SRI di NTT
April 28, 2019
0

WAINGAPU, 25 April 2019 – Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses mendampingi OPD Kabupaten Sumba Timur dalam menerapkan pengembangan budidaya padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification). Inovasi teknologi berupa telemetri tanah, udara dan air dilengkapi aplikasi berbasis web dan android yang bertujuan untuk meningkatkan hasil panen, menghemat kebutuhan bibit, menghemat kebutuhan pupuk, mengurangi kebutuhan air hingga 25%, dan menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Wuku Kalara, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur – Nusa Tenggara Timur.

Pemaparan Hasil Penelitian dan Pendampingan

Pengembangan demplot SRI kolaborasi antara ICCTF-FTP UGM ini dilaksanakan mulai Musim Tanam Pertama tahun 2018 dan berlangsung sampai sekarang. Hasil demplot menunjukkan terjadi peningkatan produktivitas padi dengan metode SRI. Metode ini mereplikasi kegiatan serupa di Kabupaten Kupang rata-rata metode konvensional menghasilkan 5-6 ton/ha, di Baumata dengan metode SRI dapat meningkatkan produktivitas padi 3 ton/ha. Peningkatan signifikan terjadi di Desa Tarus yang semula rata-rata hasil panen padi 5,6 ton/ha, menjadi 12 ton/ha dengan metode SRI seluas 28 Ha.
Budidaya padi dengan metode SRI ini memiliki kelebihan yaitu hemat air, hemat bibit, hemat biaya, hemat waktu, dan organik sehingga rendah emisi dan ramah lingkungan. Upaya budidaya padi SRI ini merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim mengingat efek buruk dari perubahan iklim sudah dirasakan oleh masyarakat umum di berbagai daerah di Indonesia. Terlebih bagi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai daerah beriklim kering yang dipengaruhi angin musim, sektor pertanian seperti padi sering sekali mengalami kesulitan dalam mendapatkan hasil panen yang stabil. Metode SRI menjawab tantangan masyarakat petani terutama di daerah kering dan rentan sebagai strategi adaptasi perubahan iklim yang paling tepat guna. Kegiatan adaptasi dalam program ini bertujuan untuk mengembangkan strategi ketangguhan iklim dan mencegah kerentanan petani serta lahan pertaniannya akibat kekeringan melalui budidaya SRI dan informasi pertanian berbasis teknologi aplikasi.

Dosen DTPB, Bayu Dwi Apri Nugroho bersama Wakil Bupati Sumba Timur, Kepala Dinas PU NTT, Dinas Pertanian NTT, Dinas Pertanian Sumba Timur, Perwakilan USAID, dan BAPPENAS

Pada Perayaan Panen Raya Padi SRI di Desa Wuku Kalara, Sumba Timur pada hari Kamis (25/4) dihadiri Umbu Lili Pekuwali, ST., MT., Wakil Bupati Sumba Timur, Andi Abikusno Direktur Operasional Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Ir. Rohmad Supriadi, Msi., Kepala Biro Perencanaan, Organisasi dan Tata Laksana (Renortala) Kementerian PPN/Bappenas dan Bayu Dwi Apri Nugroho, STP., M.Agr., Phd., Mr. Jason Seuc, Direktur Pelaksana dari Kantor Lingkungan Hidup United States Agency for International Development (USAID), Direktur PDTT, Kemendesa PDTT, perwakilan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus sebagai project manager (PIC kegiatan).
Gilbert Harangmbani, anggota kelompok petani Desa Luku Kalara turut menyampaikan antusiasme dan rasa syukur karena telah melihat dampak positif dari program SRI ini. ‘’Kami petani merasa terbantu dengan program ini karena ada nilai lebih yang kami rasakan. Awalnya petani masih ragu, karena pola tanam 1 anakan ini kami anggap sangat beresiko. Sebaiknya program ini dikembangkan dan disebarluaskan ke petani lainnya di Sumba Timur, sehingga dapat memperbaiki taraf hidup petani disini, karena kami sudah menyaksikan dan merasakan dampak baiknya.’’
Bayu Dwi Apri Nugroho, Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan dalam pengimplementasian program budidaya padi SRI ini, dipilihlah Desa Wuku Kalara, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT.
Pemilihan lokasi ini didasarkan pada karakteristik desa yang berpenduduk 1041 jiwa dan 42,8% dari warganya bermata pencaharian sebagai petani. Namun, ada beberapa kekurangan yang terjadi diantaranya adalah infrastruktur irigasi yang sudah bagus tetapi belum diimbangi dengan SDM yang baik dalam pengelolaannya, sering terjadinya gagal panen diakibatkan belum tepatnya metode tanam yang digunakan dan serangan hama yang terjadi akibat sistem tanam yang tidak serentak. Andi Abikusno, Direktur Operasional ICCTF mengatakan “Metode SRI adalah sebuah inovasi untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus sebagai upaya adaptasi untuk mengantisipasi perubahan iklim. Sektor Adaptasi dan Ketangguhan merupakah salah satu fokus area pendanaan ICCTF.’’ Metode SRI yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman dengan menggunakan bibit berumur muda (7 hari setelah pembenihan), jarak tanam lebar (jajar legowo), pupuk organik, irigasi terputus-putus, dan beberapa penyiangan, terbukti menghasilkan produktivitas padi lebih tinggi dibandingkan dengan pengelolaan sistem konvensional. Andi menambahkan “Untuk memantau dan merekam data cuaca di wilayah pertanian di Desa Luku Kalara ICCTF bekerjasama dengan FTP UGM juga telah mengembangkan teknologi telemetri untuk menganalisis iklim mikro seperti hujan, suhu, dan kelembapan tanah yang dapat diakses oleh kelompok tani di lokasi program.’’
Jason Seuc, Direktur Pelaksana dari Kantor Lingkungan Hidup United States Agency for International Development (USAID) mengatakan “Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID berkomitmen untuk mendukung upaya Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan, pertanian, energi, dan sektor lainnya, dan untuk menangani dampak perubahan iklim serta menanggulangi bencana alam. Dengan kerjasama dan pemberian dana melalui ICCTF, kami bekerja sama untuk mewujudkan pembangunan rendah karbon dan meningkatkan ketahanan iklim untuk melindungi lingkungan dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
ICCTF merupakan sarana penting untuk membantu Indonesia, tidak hanya bagi masyarakat, perseorangan dan industri, tetapi juga membantu Indonesia untuk membiayai dan melaksanakan solusi perubahan iklim untuk generasi mendatang. Penerapan sistem SRI ini mungkin merupakan solusi nyata bagi kondisi iklim di Sumba Timur dan kami sangat senang dapat menjadi bagian upaya peningkatan kapasitas pemerintah dan masyarakat Sumba Timur dalam menghadapi dampak perubahan iklim.”
Rohmad Supriadi, Kepala Biro Perencanaan, Organisasi dan Tatalaksana (Renortala) Kementerian PPN/Bappenas mengatakan “Dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini sangat berpengaruh terutama kepada kelompok masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya pada pertanian. Petani perlu beradaptasi dengan perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya perubahan curah hujan, suhu udara, ketersediaan air, varian tanaman dan pola tanam. Berbagai perubahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim tersebut dapat mengancam produksi pertanian, serta lebih jauh lagi berdampak pada peningkatan angka kemiskinan di daerah rentan”.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas petani padi provinsi NTT berada dibawah rata-rata nasional pada tahun 2015 sebesar 3,56 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar atau 67 persen dibawah produktivitas nasional yang berada pada level 5,34 ton per hektar. Produktivitas petani padi NTT jauh dibawah provinsi tetangga seperti NTB dengan 5,17 ton per hektar atau Maluku dengan 5,57 ton per hektar. Oleh karena itu, dengan metode SRI, diharapkan akan ada perbaikan produktivitas padi di NTT.
Wakil Bupati Sumba Timur, NTT, Umbu Lili Pekuwali mengatakan sistem budi daya padi SRI merupakan sistem yang patut dicontoh dan diimplementasikan di Sumba Timur sehingga masyarakat dapat sejahtera walaupun dalam kondisi perubahan iklim. Sistem ini sebagai solusi dari persoalan masyarakat petani di Kecamatan Kambera yang terkendala produktivitas pertanian. ‘’Semoga metode ini dapat diterapkan diseluruh Sumba Timur, karena hasil nyatanya sudah disaksikan dan dirasakan oleh petani di Desa Luku Kalara.’’

 

Kontributor: Bayu Dwi Apri Nugroho

comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.