Dr. Andri Prima Nugroho Paparkan Inovasi Smart Farming untuk Dukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Seminar Nasional Polbangtan Bogor

Bogor, 24 Juni 2026 – Transformasi digital menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), Dr. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Eng., Ph.D., menjadi narasumber utama pada Seminar Nasional Dies Natalis ke-8 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor yang mengusung tema “Smart Farming sebagai Strategi Swasembada Pangan Berkelanjutan.”

Pemaparan Materi oleh Dr. Andri Prima Nugroho

Seminar yang diselenggarakan secara hybrid melalui Zoom dan YouTube tersebut diikuti lebih dari 500 peserta yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, praktisi pertanian, penyuluh, serta pemangku kebijakan. Kegiatan ini menjadi forum diskusi untuk mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pembangunan pertanian yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan, sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 2 (Zero Hunger) dan Tujuan 13 (Climate Action).

Dalam paparannya yang berjudul “Inovasi Smart Farming dan Agriculture 4.0: Pertanian Cerdas sebagai Strategi Swasembada Pangan Berkelanjutan”, Dr. Andri menjelaskan bahwa sektor pertanian perlu bertransformasi melalui pemanfaatan teknologi digital untuk menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, serta meningkatnya kebutuhan pangan.

Menurutnya, konsep Smart Farming memanfaatkan berbagai teknologi seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), serta big data analytics untuk meningkatkan efisiensi produksi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, mengurangi kehilangan hasil, serta meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Teknologi bukan sekadar menghadirkan peralatan yang lebih canggih, tetapi bagaimana teknologi mampu membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat berdasarkan data. Dengan demikian, produktivitas dapat meningkat sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pertanian,” jelas Dr. Andri.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Andri juga memperkenalkan berbagai inovasi smart farming yang telah dikembangkan oleh UGM, di antaranya sistem pemantauan kondisi tanah berbasis sensor, teknologi irigasi presisi, serta pemanfaatan wahana udara nirawak (drone) untuk pemetaan lahan pertanian. Berbagai inovasi tersebut dikembangkan untuk mendukung pengelolaan pertanian yang lebih efisien, presisi, dan berbasis data.

Penyerahan Sertifikat Penghargaan Narasumber kepada Dr. Andri Prima Nugroho

Sesi diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Reni berlangsung secara interaktif. Berbagai pertanyaan disampaikan peserta, mulai dari tantangan penerapan smart farming pada lahan pertanian yang terfragmentasi hingga integrasi teknologi digital dengan infrastruktur pertanian konvensional yang telah ada.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Dr. Andri menekankan bahwa implementasi smart farming perlu dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, kelompok tani, dan sektor industri.

“Transformasi digital di sektor pertanian tidak dapat dilakukan hanya melalui penyediaan teknologi. Diperlukan penguatan kelembagaan petani, pembangunan infrastruktur pendukung, serta pendampingan yang berkelanjutan agar teknologi benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

Partisipasi Dr. Andri dalam seminar nasional ini menunjukkan komitmen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM dalam mendukung pengembangan pertanian cerdas di Indonesia melalui riset, inovasi, dan diseminasi ilmu pengetahuan. Kehadiran UGM dalam forum ilmiah nasional juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi dan pemangku kepentingan dalam mewujudkan sistem pertanian yang lebih produktif, tangguh terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.

“Smart Farming merupakan salah satu kunci menuju swasembada pangan yang berkelanjutan. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada sinergi antara inovasi teknologi, pemberdayaan petani, dan kebijakan yang mendukung,” tutup Dr. Andri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses