Diskusi Publik IMATETANI: Peran Teknik Pertanian di ASEAN Community 2015IMATETANI Public Discussion: The Role of Agriculture Engineering in ASEAN Community 2015

Diskusi Publik IMATETANI 2013 adalah kegiatan yang diadakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (PERMATETA) UGM. Acara Diskusi Publik Imatetani 2013 berlangsung pada hari Sabtu, 30 November 2013 di lantai 5 Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada. Acara tersebut merupakan kegiataan yang dihadiri oleh berbagai peserta dari kalangan mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 180 orang. Mahasiswa yang hadir merupakan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian Indonesia (IMATETANI) diantaranya adalah berasal dari INSTIPER (Institut Pertanian Stiper) Yogyakarta, Universitas Pandjadjaran Bandung, Universitas Negeri Jember, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, dan Universitas Gadjah Mada.

Tema yang diangkat dalam acara ini adalah Peran Teknik Pertanian di ASEAN Community 2015. Untuk membahas tema tersebut, didatangkan tiga narasumber yaitu TO Suprapto, Qadaruddin Fajri Adi, STP., dan Ahmad Sumiyanto,S.E.,M.Si. (anggota DPRD DIY). Selain itu, hadir pula perwakilan dari dekanat Fakultas Teknologi Pertanian UGM yaitu Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc.

Pembawa acara dalam Diskusi Publik Imatetani 2013 adalah Eggy Purnama Rachman dan Lestari Sriyanti Simanjuntak dengan moderator Tondy Dwi Mulya Rachman, ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. Sambutan yang diberikan untuk acara ini disampaikan oleh Tony Dian Syailendra (ketua pelaksana Diskusi Publik IMATETANI 2013), Prayogi (ketua IMATETANI), dan Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc. (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM).

Dalam diskusi kali ini dibahas tentang peran Teknik Pertanian bagi dunia. Diantaranya adalah tentang dampak negatif dan positifnya bagi dunia dan upaya yang harus dilakukan dalam mengahadapi tantangan di masa depan. Dijelaskan pula tentang ASEAN Community dan cara untuk menyongsongnya. Diskusi publik Imatetani Pembicara pertama adalah Bapak Ahmad Sumiyanto,S.E.,M.Si. (anggota DPRD DIY). Beliau menyampaikan tentang Daerah Yogyakarta yang memaksimalkan lahan pesisir untuk orientasi pada pariwisata bidang pertanian dan upaya yang dapat dilakukan oleh warga Jogja untuk bidang pertaniannya, serta menjelaskan tentang faktor-faktor yang menyebabkan negara lain memiliki sektor pertanian yang lebih maju. Pembicara kedua adalah Bapak TO. Suprapto dari Joglo Tani.

Beliau menjelaskan tentang kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pertanian organik. Dijelaskan bahwa SDM, sosial (fisik dan finansial) , dan sumber daya alam harus istimewa. Petani harus berpendidikan untuk mengelolah potensi hayati yang ada. Beliau juga mengajak mahasiwa untuk bersemangat melakukan “tepuk JOS (Jangan Omong Saja)” karena seringkali mahasiswa hanya dapat menyampaikan pendapat bagi pertanian Indonesia tanpa adanya tindakan optimal untuk memperbaikinya.

Pertanian bukan untuk dibicarakan, tapi untuk dijalankan dan dipikirkan dengan hati. Disampaikan pula tentang permasalahan yang dihadapi petani Indonesia, diantaranya adalah banyaknya petani miskin, SDM yang rendah, serta tertiggal tekonologi. Beliau sangat bersemangat apabila berhadapan dengan mahasiswa. “Bertindak lokal tapi berdampak global” itulah nasihat yang disampaikan beliau, selain itu Gerakan Insan Lestarikan Alam juga disampaikan oleh beliau untuk menambah semangat mahasiswa dalam mewujudkan penerus petani yang jujur dan berkualitas.

Pembicara ketiga adalah Bapak Qadaruddin Fajri Adi, STP. Seperti pembicara sebelumnya, beliau juga menyampaikan tentang upaya yang harus dilakukan seorang Teknik pertanian dalam menghadapi ASEAN community 2015. Untuk menghadapinya, harus dimulai dari diri sendiri dulu sebelum beranjak jauh menuju ASEAN. Berawal dari memperbaiki diri sendiri untuk memberikan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar kita, setelah itu barulah bergotong-royong membangun Indonesia dalam visi yang sama. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk membangun pertanian yang diimpi-impikan tidak bisa hanya sekadar wacana saja, tetapi harus ada pengorbanan berupa tindakan untuk anak cucu kita kelak.

Diskusi Publik IMATETANI 2013 adalah kegiatan yang diadakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (PERMATETA) UGM. Acara Diskusi Publik Imatetani 2013 berlangsung pada hari Sabtu, 30 November 2013 di lantai 5 Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada. Acara tersebut merupakan kegiataan yang dihadiri oleh berbagai peserta dari kalangan mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 180 orang. Mahasiswa yang hadir merupakan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian Indonesia (IMATETANI) diantaranya adalah berasal dari INSTIPER (Institut Pertanian Stiper) Yogyakarta, Universitas Pandjadjaran Bandung, Universitas Negeri Jember, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, dan Universitas Gadjah Mada. Tema yang diangkat dalam acara ini adalah Peran Teknik Pertanian di ASEAN Community 2015. Untuk membahas tema tersebut, didatangkan tiga narasumber yaitu TO Suprapto, Qadaruddin Fajri Adi, STP., dan Ahmad Sumiyanto,S.E.,M.Si. (anggota DPRD DIY). Selain itu, hadir pula perwakilan dari dekanat Fakultas Teknologi Pertanian UGM yaitu Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc. Pembawa acara dalam Diskusi Publik Imatetani 2013 adalah Eggy Purnama Rachman dan Lestari Sriyanti Simanjuntak dengan moderator Tondy Dwi Mulya Rachman, ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. Sambutan yang diberikan untuk acara ini disampaikan oleh Tony Dian Syailendra (ketua pelaksana Diskusi Publik IMATETANI 2013), Prayogi (ketua IMATETANI), dan Dr. Ir. Nursigit Bintoro, M.Sc. (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM). Dalam diskusi kali ini dibahas tentang peran Teknik Pertanian bagi dunia. Diantaranya adalah tentang dampak negatif dan positifnya bagi dunia dan upaya yang harus dilakukan dalam mengahadapi tantangan di masa depan. Dijelaskan pula tentang ASEAN Community dan cara untuk menyongsongnya. Diskusi publik Imatetani

Pembicara pertama adalah Bapak Ahmad Sumiyanto,S.E.,M.Si. (anggota DPRD DIY). Beliau menyampaikan tentang Daerah Yogyakarta yang memaksimalkan lahan pesisir untuk orientasi pada pariwisata bidang pertanian dan upaya yang dapat dilakukan oleh warga Jogja untuk bidang pertaniannya, serta menjelaskan tentang faktor-faktor yang menyebabkan negara lain memiliki sektor pertanian yang lebih maju. Pembicara kedua adalah Bapak TO. Suprapto dari Joglo Tani. Beliau menjelaskan tentang kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pertanian organik. Dijelaskan bahwa SDM, sosial (fisik dan finansial) , dan sumber daya alam harus istimewa.

Petani harus berpendidikan untuk mengelolah potensi hayati yang ada. Beliau juga mengajak mahasiwa untuk bersemangat melakukan “tepuk JOS (Jangan Omong Saja)” karena seringkali mahasiswa hanya dapat menyampaikan pendapat bagi pertanian Indonesia tanpa adanya tindakan optimal untuk memperbaikinya. Pertanian bukan untuk dibicarakan, tapi untuk dijalankan dan dipikirkan dengan hati.

Disampaikan pula tentang permasalahan yang dihadapi petani Indonesia, diantaranya adalah banyaknya petani miskin, SDM yang rendah, serta tertiggal tekonologi. Beliau sangat bersemangat apabila berhadapan dengan mahasiswa. “Bertindak lokal tapi berdampak global” itulah nasihat yang disampaikan beliau, selain itu Gerakan Insan Lestarikan Alam juga disampaikan oleh beliau untuk menambah semangat mahasiswa dalam mewujudkan penerus petani yang jujur dan berkualitas. Pembicara ketiga adalah Bapak Qadaruddin Fajri Adi, STP.

Seperti pembicara sebelumnya, beliau juga menyampaikan tentang upaya yang harus dilakukan seorang Teknik pertanian dalam menghadapi ASEAN community 2015. Untuk menghadapinya, harus dimulai dari diri sendiri dulu sebelum beranjak jauh menuju ASEAN. Berawal dari memperbaiki diri sendiri untuk memberikan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar kita, setelah itu barulah bergotong-royong membangun Indonesia dalam visi yang sama. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk membangun pertanian yang diimpi-impikan tidak bisa hanya sekadar wacana saja, tetapi harus ada pengorbanan berupa tindakan untuk anak cucu kita kelak.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.