Magelang, 7 Agustus 2026 – Pemahaman mengenai cadangan karbon pada suatu lanskap menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pengelolaan lingkungan dan penguatan aksi mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat. Untuk memperkenalkan hasil kajian awal sekaligus mendorong pengelolaan lingkungan berbasis data, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), bersama Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), menyelenggarakan Diseminasi Hasil Riset Awal Cadangan Karbon pada Lanskap Agroforestri Desa Sambak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, tersebut menghadirkan Dr. Muhamad Khoiru Zaki sebagai pemapar hasil penelitian. Kegiatan dihadiri oleh Kepala Desa Sambak, Dahlan, beserta jajaran Pemerintah Desa Sambak serta pihak-pihak yang selama ini terlibat dalam pendampingan program lingkungan dan pengembangan Desa ProKlim Lestari.
Mengidentifikasi Cadangan Karbon pada Berbagai Penggunaan Lahan
Dalam paparannya, Dr. Zaki menjelaskan hasil riset awal mengenai potensi cadangan dan tangkapan karbon pada berbagai kategori penggunaan lahan yang terdapat di Desa Sambak. Kajian tersebut melihat lanskap desa secara menyeluruh dengan mempertimbangkan keberadaan vegetasi pada sistem agroforestri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi cadangan karbon di Desa Sambak tidak hanya terdapat pada kawasan dengan tutupan vegetasi yang luas. Sistem multistrata agroforestri menjadi salah satu kategori penggunaan lahan dengan potensi tangkapan karbon yang tinggi.
Riset Awal Menjadi Dasar Pengelolaan Lingkungan Desa

Diseminasi hasil penelitian menjadi ruang bagi Pemerintah Desa Sambak dan masyarakat untuk memahami kondisi cadangan karbon berdasarkan data ilmiah. Data tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan strategi pengelolaan vegetasi serta mempertahankan keberadaan tanaman dan pepohonan yang berkontribusi terhadap cadangan karbon desa.
Dalam diskusi, muncul pula pembahasan mengenai pentingnya menjadikan hasil penelitian sebagai bagian dari keberlanjutan program lingkungan di Desa Sambak. Data cadangan karbon dinilai dapat menjadi salah satu aset informasi bagi desa dalam merancang kebijakan dan program pengelolaan lingkungan pada masa mendatang.
Pak Joko, yang selama ini terlibat dalam pendampingan Program Kampung Iklim Lestari di Jawa Tengah, menyampaikan bahwa pengembangan pengelolaan karbon berbasis masyarakat merupakan salah satu cita-cita yang ingin diwujudkan melalui keberlanjutan program tersebut.
“Sebagai legacy dari kolaborasi UGM dan YESSA, harapannya kita dapat mendorong adanya regulasi yang mengatur tentang carbon use. Kita tidak ingin ProKlim Lestari berhenti di sini saja. Harapannya, carbon credit dari hasil carbon capture dapat menjadi keberlanjutan program ini dan menjadikan Desa Sambak sebagai desa percontohan pertama dalam hal tersebut,” ujar Pak Joko.
Ia menambahkan bahwa Desa Sambak juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi desa-desa lain yang menjalankan maupun mengembangkan Program Kampung Iklim Lestari.
“Kita ingin desa-desa ProKlim Lestari lainnya juga dapat melihat Desa Sambak sebagai rujukan,” tambahnya.
Potensi Pengembangan Pasar Karbon sebagai Tindak Lanjut
Selain membahas hasil penelitian, diskusi juga menyoroti kemungkinan pemanfaatan data cadangan karbon untuk mendukung pengembangan program karbon di tingkat desa, termasuk peluang pengembangan carbon credit dan keterhubungannya dengan pasar karbon.
Namun, pengembangan menuju mekanisme tersebut masih membutuhkan berbagai tahapan lanjutan, termasuk pemutakhiran data, pengukuran dan verifikasi, penguatan kelembagaan, serta kajian terhadap mekanisme dan ketentuan pasar karbon yang berlaku.
Pak Joko menilai bahwa hasil riset awal yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut merupakan langkah penting menuju pengembangan pengelolaan karbon yang lebih terukur.
“Selama mendampingi program Kampung Iklim Lestari di Jawa Tengah, program carbon capture ini merupakan sebuah mimpi yang ingin kami wujudkan. Saat ini, apa yang dilakukan di Desa Sambak merupakan langkah yang baik menuju realisasi tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, Desa Sambak memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut berdasarkan hasil diseminasi penelitian.
“Desa Sambak berdasarkan hasil diseminasi yang telah dipaparkan memiliki potensi untuk masuk ke dalam pasar karbon. Data riset awal yang dipaparkan ini sudah sangat luar biasa dan dapat menjadi aset bagi Desa Sambak,” jelas Pak Joko.
Menjaga Cadangan Karbon melalui Peran Masyarakat
Keberlanjutan cadangan karbon tidak hanya bergantung pada hasil pengukuran, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dan pemerintah desa dalam mempertahankan vegetasi yang telah berkontribusi terhadap cadangan karbon.
Pemerintah desa memiliki peran penting dalam mengajak masyarakat menjaga tanaman dan pepohonan yang terdapat di lingkungan desa serta mencegah penebangan secara sembarangan. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mempertahankan cadangan karbon sekaligus menjaga kualitas lingkungan Desa Sambak.
Pengelolaan vegetasi pada kawasan agroforestri dan pekarangan juga dapat memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat, baik melalui penyediaan hasil pertanian, peningkatan kualitas lingkungan, maupun penguatan fungsi ekologis lanskap desa.
Dengan pendekatan tersebut, hasil riset cadangan karbon tidak hanya menjadi data akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi dasar pengelolaan lingkungan yang lebih terarah dan sesuai dengan kondisi lokal Desa Sambak.
Pemerintah Desa Sambak Dorong Keberlanjutan Riset
Kepala Desa Sambak, Dahlan, menyambut baik hasil penelitian yang telah dipaparkan. Ia berharap kajian mengenai cadangan karbon dan pengelolaan lingkungan di Desa Sambak dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semoga hasil penelitian dan carbon capture ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi bisa terus berlanjut hingga benar-benar memberikan manfaat bagi Desa Sambak,” ungkap Dahlan.
Dahlan juga berharap adanya pendampingan lebih lanjut bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk memahami hasil perhitungan cadangan karbon, menjaga keberadaannya, serta mengidentifikasi peluang pemanfaatan yang dapat memberikan manfaat bagi desa dan masyarakat.
Menuju Pengelolaan Lanskap Agroforestri Berbasis Data

Diseminasi hasil riset awal cadangan karbon ini menjadi bagian dari kolaborasi antara DTPB FTP UGM, YESSA, Pemerintah Desa Sambak, dan masyarakat dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berbasis data dan ilmu pengetahuan.
Hasil penelitian memberikan gambaran awal mengenai distribusi potensi cadangan karbon pada berbagai penggunaan lahan di Desa Sambak sekaligus menunjukkan bahwa sistem agroforestri, memiliki peran penting dalam mendukung fungsi ekologis lanskap pedesaan.
Ke depan, pengembangan kajian masih memerlukan berbagai tahapan, mulai dari pemutakhiran data cadangan karbon, penguatan pengelolaan vegetasi, pemantauan perubahan cadangan karbon, hingga kajian lebih lanjut mengenai peluang pengembangan carbon credit.
Menutup kegiatan, Dr. Muhamad Khoiru Zaki menyampaikan komitmennya untuk terus mendampingi Desa Sambak dalam pengembangan hasil penelitian sesuai dengan batasan dan kapasitas akademiknya. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah desa dan masyarakat dalam memahami data cadangan karbon serta menentukan langkah pengelolaan yang berbasis bukti ilmiah.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra pembangunan, pemerintah desa, dan masyarakat, hasil riset awal cadangan karbon diharapkan dapat menjadi pijakan bagi Desa Sambak untuk mengembangkan pengelolaan lanskap agroforestri yang lebih terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekologis maupun sosial-ekonomi bagi masyarakat.