Kazan, Rusia, 30 September–3 Oktober 2026. Sains, budaya, dan persahabatan internasional berpadu di Kazan ketika para peneliti muda dari berbagai negara berkumpul dalam IV OIC Youth Scientific Congress yang diselenggarakan oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Aryanis Mutia Zahra, Ph.D., IPM., ASEAN Eng., dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Universitas Gadjah Mada (UGM), mewakili Indonesia dalam kongres tersebut dan terpilih sebagai salah satu pemakalah terbaik (best paper presenter) pada Bidang Biomedis dan Bioteknologi.
Kongres ini diselenggarakan pada 30 September hingga 3 Oktober 2026 di Kazan (Volga Region) Federal University (KFU). Kongres ini merupakan forum internasional tahunan yang mempertemukan peneliti dan ilmuwan muda berusia 18 hingga 35 tahun dari negara-negara anggota OKI untuk mempresentasikan hasil penelitian, bertukar gagasan, dan mengembangkan kerja sama ilmiah internasional. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Academy of Youth Diplomacy dan KFU dengan dukungan Kementerian Urusan Pemuda Republik Tatarstan serta Group of Strategic Vision “Russia and the Islamic World”. Tahun ini, sebanyak 100 peserta dari hingga 25 negara terpilih dari lebih dari 2.500 pendaftar, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kongres.

Hari Pertama: Kunjungan ke Lobachevsky Lyceum

Rangkaian acara dibuka pada 30 September dengan kunjungan sosial ke Lyceum Kazan Federal University yang dinamai N. I. Lobachevsky. Didirikan pada tahun 1989 sebagai sekolah eksperimental dan diberi nama berdasarkan matematikawan Nikolai Lobachevsky pada tahun 2004, lyceum ini merupakan sekolah berasrama negeri yang berada di bawah naungan KFU. Sekolah ini mendidik sekitar 700 siswa dengan penekanan kuat pada ilmu eksakta dan ilmu alam, khususnya matematika dan fisika, dan para siswanya turut terlibat dalam kegiatan akademik dan ilmiah universitas.
Selama kunjungan, peserta kongres berkeliling lyceum dan mengenal sejarah, laboratorium, serta fasilitas pembelajaran. Para siswa kemudian menampilkan kegiatan dan pertunjukan mereka, memberikan gambaran kepada tamu internasional tentang bagaimana talenta muda di Kazan dibina jauh sebelum memasuki jenjang universitas.
Hari Kedua: Kremlin Kazan, Simbol Hidup Berdampingan
Pada pagi hari 1 Oktober, peserta mengikuti tur kota yang mencakup kunjungan ke Kremlin Kazan. Kompleks Sejarah dan Arsitektur Kremlin Kazan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2000. Situs ini berakar dari masa Islam pada era Golden Horde dan Kekhanan Kazan, dan setelah ditaklukkan oleh Ivan the Terrible pada tahun 1552, kawasan ini menjadi pusat kehadiran Kristen Ortodoks di wilayah Volga.
Kini, Kremlin dikenal luas melalui dua bangunan ikonik yang berdiri berdampingan, yaitu Katedral Annunciation yang dibangun pada 1554 hingga 1562, dan Masjid Kul Sharif, rekonstruksi masjid utama Kekhanan Kazan yang diresmikan pada tahun 2005. Menurut UNESCO, masjid baru tersebut melambangkan hidup berdampingan secara damai antara budaya yang berbeda, Islam dan Kristen. Bagi peserta dari negara-negara OKI, kunjungan ini memberikan gambaran bermakna tentang bagaimana warisan Muslim dan Kristen dapat berbagi satu ruang dalam damai.

Upacara Pembukaan: Sains di Era Perubahan Global
Kongres secara resmi dibuka di KFU pada hari yang sama (1 Oktober 2026). Tema utama pembukaan adalah sains di era perubahan global dan peran kecerdasan artifisial (AI). Peserta disambut oleh Marat Gatin, Asisten Rais (Kepala) Republik Tatarstan, Menteri Urusan Interaksi dengan Organisasi Keagamaan (sebuah departemen kepresidenan di Tatarstan), sekaligus Wakil Ketua Group of Strategic Vision Russia and the Islamic World; Timur Suleimanov, Ajudan Rais Tatarstan; Vladislav Usanov, Wakil Menteri Urusan Pemuda Tatarstan; Dr. Shahid Mahmood, Ketua Interactive Group dan Penasihat Kehormatan Senior COMSTECH; serta Timirkhan Alishev, Wakil Rektor Bidang Hubungan Internasional KFU.
“Sungguh menggembirakan bahwa forum ini diselenggarakan di Kazan untuk keempat kalinya. Perlu dicatat pula bahwa Kazan Federal University tidak hanya menjadi tuan rumah kegiatan penting ini, tetapi juga merupakan penggagas proyek ini,” ujar Gatin. Dr. Alishev menyampaikan bahwa standar kongres dan jumlah pendaftar terus meningkat. “Persaingannya sangat ketat dan proses seleksinya pun ketat. Tentu saja, sangat penting bagi kami agar generasi muda memandang KFU tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai kelanjutan karier ilmiah mereka,” katanya. Dr. Shahid Mahmood menambahkan bahwa, menurut pandangannya, dunia saat ini menghadapi dua tantangan yang penanganannya memerlukan pemanfaatan AI, yaitu ketahanan pangan dan perubahan iklim.
Upacara dilanjutkan dengan sesi panel bertajuk “Science in an Era of Global Change: The University of the Future and the Transformation of Educational Ecosystems“. Para panelis membahas bagaimana AI mengubah wajah sains dan pendidikan. Profesor Leonid Isaev dari National Research University Higher School of Economics mengajak hadirin untuk tidak melebih-lebihkan AI dan menyikapinya “bukan dengan larangan”, sementara Dr. Kazbek Dyussembayev, Dosen Senior L. N. Gumilyov Eurasian National University, menegaskan bahwa AI seharusnya membantu, bukan menggantikan, kecerdasan alami. “AI dapat membantu mengolah kumpulan data yang besar, tetapi kesimpulan ilmiah tetap harus ditarik oleh manusia,” pungkasnya, sekaligus menekankan bahwa integritas akademik harus tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Menelusuri Sejarah Sains di KFU
Setelah pembukaan, peserta mengunjungi museum-museum KFU untuk mengenal sejarah universitas dan kontribusinya bagi ilmu pengetahuan. Didirikan pada November 1804, Kazan Federal University merupakan salah satu universitas tertua di Rusia. Di universitas inilah Nikolai Lobachevsky mengembangkan geometri non-Euklides, Karl Ernst Claus menemukan unsur rutenium pada tahun 1844, Aleksandr Butlerov merumuskan teori struktur kimia senyawa organik, dan Evgeny Zavoisky menemukan resonansi paramagnetik elektron pada tahun 1944.


Kunjungan Laboratorium: Spektrometri Massa Mutakhir
Pada sore hari, setiap bidang keilmuan mengunjungi laboratorium di institut tuan rumah masing-masing. Peserta Bidang Biomedis dan Bioteknologi mengunjungi Institute of Fundamental Medicine and Biology (IFMB) KFU dan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengunjungi laboratorium yang berkaitan dengan genetika, mikrobiologi, dan riset vaksin, sedangkan kelompok kedua berfokus pada spektrometri massa.
Dr. Aryanis Mutia Zahra bergabung dalam kelompok spektrometri massa yang berkaitan erat dengan penelitian metabolomiknya. Para peneliti tuan rumah memaparkan teknologi mutakhir dan penelitian yang sedang berjalan, beserta fasilitas laboratorium yang mendukung analisis transkripsional, spektrometer massa resolusi tinggi AB SCIEX TripleTOF, serta instrumen MALDI-TOF dan GC-MS/MS. Kunjungan ini membuka diskusi tentang bagaimana platform analitik resolusi tinggi dapat mendukung penelitian di bidang biomedis, pangan, dan pertanian.

Presentasi Penelitian di Bidang Biomedis dan Bioteknologi
Pada 1 dan 2 Oktober, peserta mempresentasikan penelitian mereka dalam lima bidang, yaitu Biomedis dan Bioteknologi; AI dan Solusi Digital dalam Pendidikan; Hubungan Internasional Modern dan Hukum Internasional; Arsitektur, Desain, dan Seni; serta Keberlanjutan Lingkungan. Setiap bidang diikuti oleh 20 pemakalah.
Pada Track 1, Biomedis dan Bioteknologi, presentasi dinilai oleh Dr. Kazbek Dyussembayev dari L. N. Gumilyov Eurasian National University, Dr. Dina Yarullina, dan Dr. Airat Rashitovich Kayumov dari Kazan Federal University. Dr. Aryanis Mutia Zahra mempresentasikan penelitiannya pada sesi Pertanian dan Pembangunan Berkelanjutan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kombinasi plasma-activated water (PAW) dan hidrolisat protein dari susu (milk-derived protein hydrolysate, MPH) di bawah pencahayaan tambahan LED putih meningkatkan kinerja fotosintesis serta serapan mineral pada selada Cos hidroponik sekaligus menurunkan akumulasi nitrat. Selama 21 hari penyimpanan dingin, selada yang diberi perlakuan mempertahankan pigmen dan antioksidan lebih tinggi serta mengalami susut bobot sekitar sepertiga lebih rendah, sehingga tetap berada dalam batas kelayakan pasar susut bobot 5% setidaknya enam hari lebih lama. Dari 132 metabolit, analisis jaringan mengidentifikasi asam 4,5-dikafeoilkuinat sebagai pusat (hub) yang menghubungkan biosintesis fenilpropanoid dan flavonoid dengan penanda stres dan fitohormon. Temuan ini menunjukkan bahwa hidrolisat protein, PAW, dan pencahayaan LED dapat menjadi strategi berkelanjutan untuk menghasilkan selada dengan kualitas nutrisi yang lebih baik, kandungan nitrat yang aman, dan daya simpan pascapanen yang lebih panjang.

Proyek Kelompok: Pertanian dan Pembangunan Berkelanjutan
Selain presentasi individu, peserta bekerja dalam kelompok tematik untuk menyusun dan mempresentasikan proyek bersama. Dr. Aryanis Mutia Zahra bergabung dalam kelompok Pertanian dan Pembangunan Berkelanjutan bersama Usman Wajid, Sofya Kanaeva, dan Elizaveta Gavrilova, yang mempertemukan peneliti muda dari Pakistan, Rusia, dan Indonesia.
Kelompok ini mengawali kerjanya dengan mengidentifikasi dan memberi skor terhadap lima belas permasalahan di bidang pertanian. Permasalahan dengan skor tertinggi meliputi keterbatasan sumber daya, kerentanan terhadap perubahan iklim, rendahnya upah, kebutuhan akan regenerasi petani, serta alih fungsi lahan dan sungai untuk urbanisasi dan pembangunan. Kelompok kemudian memetakan hambatan utama di balik permasalahan tersebut, antara lain kondisi ekonomi dan politik, rendahnya pendapatan petani muda, serta nilai-nilai yang melekat pada pemanfaatan lahan dan air, lalu memadankannya dengan solusi seperti pengelolaan berkelanjutan, protokol terstandar, serta pertukaran dan pengembangan pengetahuan lokal.
Berdasarkan analisis tersebut, kelompok mengusulkan Scientific Skills Development Program Initiatives (SSDPI), sebuah program kerja sama di bidang efisiensi, manajemen, dan penanganan masalah (troubleshooting) dalam sistem pertanian. Program ini bertumpu pada tiga pilar, yaitu riset bersama antarorganisasi dan antarinstitusi; sumber daya manusia dan pengetahuan, melalui pertukaran, pelatihan, pendampingan, dan keterlibatan praktisi; serta teknologi dan kebijakan, melalui protokol terstandar dan basis data bersama mengenai kondisi fisiologis tanaman dan ternak serta pengendalian hama dan penyakit. Sasaran program ini meliputi petani, pembuat kebijakan, kementerian terkait, peneliti, dan tenaga ahli teknis, dengan rencana kegiatan berupa pertukaran pengetahuan, magang, dan proyek penelitian kolaboratif.

Upacara Penutupan, Gala Dinner, dan Penghargaan Pemakalah Terbaik
Kongres ditutup pada malam 2 Oktober dengan upacara penutupan dan gala dinner di Bilyar Palace. Malam tersebut dimeriahkan dengan tarian tradisional dan pertunjukan budaya, beragam hidangan, sesi networking, serta momen ketika peserta dari berbagai negara menari bersama.
Puncak acara malam itu adalah pengumuman presentasi makalah terbaik. Dewan juri memilih peserta terbaik dari setiap track, dan Dr. Aryanis Mutia Zahra terpilih sebagai salah satu pemakalah terbaik pada Bidang Biomedis dan Bioteknologi. Penghargaan ini disertai kesempatan untuk mendapatkan pendampingan (mentorship) dan menjalin kolaborasi penelitian dengan para juri.

Memperluas Jejaring Internasional UGM
Keikutsertaan dalam IV OIC Youth Scientific Congress memperluas jejaring internasional DTPB FTP UGM dengan para peneliti dan institusi di negara-negara OKI dan Rusia. Penghargaan pemakalah terbaik serta rencana pendampingan bersama para juri membuka peluang kolaborasi berkelanjutan di bidang metabolomik, bioteknologi, dan pertanian berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi UGM bagi komunitas ilmiah global.

Kontributor: Aryanis Mutia Zahra
Editor : HP