Tim YESSA–DTPB FTP UGM Lakukan Monitoring Pengabdian Masyarakat di Desa Sambak

Sambak, 22 Januari 2026 —Tim Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) bersama perwakilan Yanmar Environmental Sustainability Support Agency (YESSA) melaksanakan kegiatan monitoring pertengahan tahun keempat program pengabdian masyarakat di Desa Sambak. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama berkelanjutan antara YESSA dan DTPB FTP UGM dalam mendukung pengembangan teknologi pertanian dan pemberdayaan masyarakat desa.

Tim DTPB FTP UGM dipimpin oleh Prof. Lilik Sutiarso dan didampingi oleh jajaran dosen, yakni Dr. Ngadisih, Dr. Devi Yuni Susanti, Andri Prima Nugroho, Ph.D., Hanim Zuhrotul Amanah, Ph.D., Muhamad Khoiru Zaki, Ph.D., dan Dr. Prieskarienda Lestari, serta melibatkan mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Sementara itu, perwakilan YESSA yang hadir terdiri atas Kamikubo Keita (Executive Secretary YESSA), Tsukada Morio (External Reviewer YESSA dari Mie University), dan Sasaki Nobuhiro (External Reviewer YESSA dari Osaka Metropolitan University).

Peningkatan Efisiensi Produksi Kopi Sambak melalui Teknologi Dome Dryer

Kunjungan diawali di Unit Produksi Kopi Sambak, tempat rombongan meninjau proses produksi kopi yang telah memanfaatkan teknologi hasil kolaborasi YESSA dan DTPB FTP UGM. Salah satu inovasi utama yang diterapkan adalah penggunaan dome dryer berbahan bakar gas elpiji untuk proses pengeringan biji kopi.

Kepala Desa Sambak, Bapak Dahlan, menyampaikan bahwa sebelum adanya teknologi tersebut, proses pengeringan kopi dilakukan secara tradisional dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Dahulu produksi kopi terhambat akibat proses pengeringan biji kopi yang memakan waktu lama dengan penjemuran tradisional. Namun sekarang, dengan adanya dome dryer berbahan bakar gas elpiji, waktu pengeringan dapat dipangkas dari sekitar satu minggu menjadi hanya satu hari,” ujarnya.

Penerapan teknologi ini memberikan dampak positif terhadap efisiensi proses produksi sekaligus meningkatkan kualitas hasil kopi Sambak agar lebih kompetitif di pasar.

Produksi Tahu Lebih Higienis dengan Steam Boiler

Kunjungan dilanjutkan ke Small Medium Tofu Enterprise milik Bapak Qosim, yang telah diresmikan pada tahun sebelumnya. Dalam kesempatan ini, perwakilan YESSA meninjau langsung proses produksi tahu yang kini menggunakan steam boiler sebagai teknologi utama dalam proses pemasakan.

Penggunaan steam boiler memungkinkan proses produksi tahu menjadi lebih higienis karena tidak terpapar langsung abu pembakaran sebagaimana metode tradisional. Selain itu, teknologi ini juga berkontribusi pada penghematan penggunaan kayu bakar, sehingga lebih ramah lingkungan. Para tamu YESSA turut mencicipi produk tahu hasil produksi unit usaha tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap peningkatan kualitas produk.

Panen Perdana Alpukat dan Penguatan Smart Agroforestry Desa Sambak

Agenda kunjungan ditutup di kawasan Smart Agroforestry Fruit Plantation Desa Sambak, yang ditandai dengan seremonial panen perdana buah alpukat. Alpukat yang dihasilkan memiliki ukuran dan kualitas yang mampu bersaing di pasaran, sehingga berpotensi memperkuat ekonomi lokal masyarakat desa.

Sebagai penguatan program, Pemerintah Desa Sambak secara mandiri membangun Smart Agroforestry Learning Center sebagai pusat pembelajaran dan living laboratory. Fasilitas ini menjadi wujud komitmen Desa Sambak dalam melanjutkan program pengabdian serta mengembangkan diri sebagai Kampung Program Iklim.

Dalam testimoninya, Tsukada Morio menyampaikan apresiasi atas perkembangan Desa Sambak.

“Selama dua tahun terakhir saya terlibat dalam program ini, banyak perubahan dan perkembangan yang signifikan di Desa Sambak. Saya sangat mengapresiasi komitmen masyarakat desa dan berharap hasil program ini dapat terus berlanjut dan dinikmati oleh warga,” ungkapnya.

Wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Kontribusi terhadap SDGs

Mewakili tim DTPB FTP UGM, Prof. Lilik Sutiarso menegaskan bahwa Desa Sambak memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Ia juga menekankan bahwa komitmen DTPB FTP UGM terhadap Desa Sambak akan tetap berlanjut meskipun program YESSA telah berakhir.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat, yang dilakukan oleh DTPB FTP UGM melalui penerapan teknologi tepat guna dan pendampingan berkelanjutan bagi warga Desa Sambak.

Lebih lanjut, program kolaboratif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain:

  • SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui penguatan ekonomi lokal,
  • SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui efisiensi energi pada proses produksi,
  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan teknologi tepat guna,
  • SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta
  • SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan emisi dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, lembaga internasional, dan masyarakat desa, Desa Sambak diharapkan dapat menjadi model pengembangan desa berkelanjutan berbasis inovasi dan kolaborasi.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses