Ekspedisi Patriot, Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem Mengawal Transformasi Kelapa Sawit Berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi Ranah Balingka Beremas

Dalam upaya memperkuat pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi, Kementerian Transmigrasi bekerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia termasuk Universitas Gadjah Mada membentuk Tim Ekspedisi Patriot. Program ini hadir sebagai motor penggerak perubahan melalui program riset terapan salah satunya di kawasan transmigrasi Ranah Balingka Beremas, kawasan ini terdiri atas Kecamatan Ranah Batahan, Kecamatan Koto Balingka, dan Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat yang diketuai oleh Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng. Ph.D., IPM. ASEAN Eng., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM. Bersama para anggota lainnya dari dosen dan alumni FTP UGM yaitu Ir. Pujo Saroyo M.Eng.Sc., Tri Ariani, S.T.P., Fadhel Munelson S.T.P., dan Wahyu Duwi Santodo S.T.P., tim bekerja secara kolaboratif untuk merancang Desain Pengembangan Komoditas Unggulan Spesifik Perkebunan (Kelapa Sawit) pada Kawasan Transmigrasi.

Penelitian dilaksanakan sekitar empat bulan yaitu Agustus-November 2025 dengan fokus kegiatan berupa identifikasi komoditas-komoditas ungulan lokal; analisis rantai pasok dan potensi pasar; dan melakukan perumusan strategi pengembangan komoditas berbasis karakteristik wilayah. Pengumpulan dan analisis data dilakukan degan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif-kuantitatif dan interdisipliner untuk merancang pengembangan komoditas unggulan secara spesifik sesuai karakteristik kawasan.

Menggunakan analisis spasial karakteristik wilayah dan analisis kesesuaan lahan lokasi studi berbasis Sistem Informasi Geografi (SIG) diketahui identifkasi potensi pengembangan komoditas unggulan khususnya sketor perkebunan berbasis wilayah. Data spasial dikumpulkan dalam bentuk raster dan vektor mencakup curah hujan, temperatur, elevasi, kemiringan, jenis tanah, tekstur tanah, drainase, tutupan lahan, serta aksesibilitas. Data ini diolah menggunakan teknik SIG seperti overlay, buffering, proximity analysis, dan interpolasi.

Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang didapatkan dari analisis spasial sebagian besar wilayah studi menunjukkan potensi komoditas unggulan yang sangat positif untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan mencapai 63.216,15 hektar atau setara dengan 91% dari total wilayah. Untuk memperkuat analisis tersebut, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) yang bertujuan untuk memperoleh perspektif para pemangku kepentingan terkait kriteria pemilihan komoditas unggulan yang paling sesuai dengan potensi kawasan. Selain itu, FGD ini juga melibatkan petani sebagai pelaku utama. Pendekatan ini memastikan bahwa penetuan komoditas unggulan tidak hanya berbasis data teknis tetapi juga mempertimbangkan aspek kebijakan, sosial, dan ekonomi lokal. Melalui analisis data dan dilakukan  FGD yang telah dilakukan, komoditas unggulan perkebunan yang akan dikaji yaitu Kelapa Sawit.

Struktur ekonomi masyarakat sangat bergantung pada sektor perkebunan kelapa sawit, masyarakat berperan sebagai pengelola perkebunan kelapa sawit, pengepul tandan buah segar (TBS) berskala kecil (toke), pengepul tanban buah segar (TBS) berskala besar (peron), dan pabrik kelapa sawit. Untuk memahami secara menyeluruh peran ekonomi kawasan ini, dilakukan analisis rantai nilai yang menggambarkan antar pelaku usaha dari hulu ke hilir. Analisis rantai nilai dilakukan untuk mengetahui titik-titik kritis yang dapat diperkuat untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan daya saing kawasan. Pengambilan data primer untuk menganalisis rantai nilai dilakukan dengan wawancara dan in-depth interview kepada setiap pelaku usaha.

Hasil kegiatan ini menunjukan bahwa pengembangan kawasan membutuhkan kebijakan terpadu antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat transmigrasi. Beberapa langkah strategis perlu dilakukan antara lain berupa penguatan kebijakan pengembangan komoditas sesuai karakter kawasan; reformasi rantai pasok kelapa sawit melalui penguatan kelembagaan petani; penguatan konservasi dan pengurangan risiko bencana; program penguatan kapasitas petani dan pengembangan wirausaha pertanian, dan percepatan perbaikan infrastruktur pendukung rantai nilai.

Rekomendasi strategi diterapkan berbeda di setiap kecamatan sesuai dengan kebutuhan dari hasil temuan. Ranah Batahan sebagai pusat agribisnis hulu, Koto Balingka sebagai klaster industri hilirisasi sawit, dan Sungai Beremas sebagai simpul logistik pesisir menuntut intervensi kebijakan yang terukur, responsif terhadap kondisi lingkungan, serta berorientasi pada peningkatan daya saing petani. Pemerintah perlu memberikan dukungan yang memadukan pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan petani, modernisasi rantai pasok, serta integrasi mitigasi risiko bencana dalam pengelolaan kawasan. Kehadiran Ekspedisi Patriot diharapkan tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mampu mendorong terwujudnya kawasan transmigrasi yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

Kontributor: Tri Ariani

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses