KLUNGKUNG – Letak geografis Nusa Lembongan yang terpisah dari Pulau Bali menjadikan sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat setempat masih bergantung pada pasokan dari luar pulau. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Nirwana Nusa Penida menginisiasi program pertanian terpadu (integrated farming) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di wilayah setempat.
Program yang berlangsung pada 24 Juni hingga 1 Agustus 2026 ini mengusung tema “Penguatan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir Berbasis Ekonomi Sirkular di Desa Jungutbatu dan Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.” Kegiatan ini menyasar masyarakat pada skala rumah tangga, sekolah, hingga sektor Hotel, Restoran, and Kafe (HOREKA), serta dikembangkan pada lahan milik Ketut Nusa, Guru SDN 1 Lembongan, dan Wahyu Yoga, KAGAMA Pascasarjana FTP, sebagai lokasi demonstration plot (demplot) pertanian terpadu yang dinamai ‘Kebun Dharma’.

Pengembangan program pertanian terpadu Kebun Dharma dimulai dengan melakukan pengolahan lahan secara bertahap, mulai dari persiapan lahan, pengaplikasian mulsa organik dari tanaman liar di sekitar lokasi, hingga perancangan dan instalasi sistem irigasi sederhana berbasis pompa listrik. Budidaya tanaman menerapkan sistem tumpang sari antara jagung, tomat, dan cabai yang dipadukan dengan tanaman refugia berupa kenikir dan marigold sebagai tanaman refugia penarik musuh alami hama, serta pohon nangka sebagai pelindung tanaman untuk menahan angin dan naungan peneduh.

Konsep pertanian terpadu tersebut juga mengintegrasikan sektor peternakan. Dikembangkan budidaya ayam petelur dan bebek. Pada ayam petelur dengan pakan yang menggunakan formulasi difortifikasi dan premiks untuk menghasilkan telur omega, sementara budidaya bebek dikembangkan sebagai pelengkap sistem produksi pangan. Limbah kotoran ternak bersama dedaunan kemudian diolah kembali menjadi pupuk kompos melalui proses pengomposan yang dilakukan secara terkontrol dengan pengadukan rutin guna menjaga aerasi. Seluruh perkembangan tanaman dipantau secara berkala menggunakan aplikasi RITx Bertani, sehingga kondisi lahan dapat dimonitor secara lebih efektif. Sebagai fasilitas pendukung, mahasiswa juga membangun gazebo hasil kolaborasi dengan mahasiswa arsitektur sebagai fasilitas pendukung untuk ruang belajar dan berkumpul bagi masyarakat.
“Lahan ini sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Sekarang sudah jauh lebih hidup, tertata, dan bisa menjadi tempat belajar sekaligus penyedia pangan. Saya berharap keberadaannya dapat terus memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkap Wahyu Yoga.
Mahasiswa Teknik Pertanian UGM, Ikfina Musyahadah Azzahro, menyampaikan bahwa program tersebut dirancang agar mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat, terutama dalam memperkuat kemandirian pangan di wilayah kepulauan.
“Harapan kami, demplot pertanian terpadu ini tidak berhenti setelah KKN selesai, tetapi dapat terus dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan di Nusa Lembongan,” ujarnya.
Selain mengembangkan sistem produksi pangan, tim KKN-PPM UGM Nirwana Nusa Penida juga melaksanakan kegiatan edukasi lapangan melalui field trip bersama siswa dan guru SDN 1 Lembongan pada Sabtu (25/7/2026). Kegiatan tersebut mengajak peserta mengenal konsep pertanian terpadu secara langsung melalui tiga pos pembelajaran interaktif.
Pada pos pertama, siswa mempraktikkan penanaman bibit serta memperoleh edukasi mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun. Selanjutnya, pada pos kedua, peserta dikenalkan dengan proses pengomposan, mulai dari pengenalan bahan baku, penggunaan aktivator, hingga praktik mengaduk kompos untuk menjaga proses dekomposisi. Di lokasi yang sama, siswa juga berinteraksi dengan ayam petelur dan bebek serta dapat langsung memperoleh penjelasan mengenai proses produksi telur omega. Sementara itu, pada pos ketiga, peserta diajak untuk mengenal berbagai jenis serangga yang berperan penting dalam ekosistem pertanian, seperti kumbang koksi (ladybug) dan beberapa jenis serangga lain yang umum dijumpai di lahan budidaya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah satu siswa SDN 1 Lembongan, Uca, mengaku senang karena memperoleh banyak pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dipelajari secara langsung. Para guru SDN 1 Lembongan turut mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman belajar kontekstual yang menghubungkan materi di kelas dengan praktik di lapangan. Menurut mereka, pembelajaran secara langsung seperti ini mampu meningkatkan rasa ingin tahu siswa sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, pertanian, dan ketahanan pangan sejak usia dini. Melalui penerapan pertanian terpadu berbasis ekonomi sirkular, tim KKN-PPM UGM Nirwana Nusa Penida berupaya menunjukkan bahwa pengelolaan limbah organik, budidaya tanaman, peternakan, dan pemanfaatan teknologi sederhana dapat diintegrasikan menjadi sebuah sistem yang saling mendukung. Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang mampu memperkuat ketahanan pangan lokal, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar pulau, serta mendorong terwujudnya sistem pertanian yang berkelanjutan di Nusa Lembongan.

Kontributor : Ikfina