Yogyakarta, 16 Juli 2026 – Upaya memperkuat ketahanan sektor pertanian di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan Sidang Ke-2 Komisi Irigasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2026. Melalui forum yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan, Komisi Irigasi DIY membahas strategi pengelolaan irigasi yang adaptif terhadap bencana hidrometeorologi, sekaligus menyusun arah pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penyusunan Rencana Tata Tanam dan Pembagian Air Irigasi

Salah satu agenda utama sidang adalah pembahasan Draft Rencana Tata Tanam (RTT) Global serta Rencana Pembagian dan Pemberian Air Irigasi Tahun 2026–2027 pada daerah irigasi kewenangan Pemerintah Daerah DIY. Dokumen tersebut disusun sebagai pedoman dalam pengaturan pola tanam dan distribusi air irigasi dengan mempertimbangkan keseimbangan antara ketersediaan sumber daya air dan kebutuhan sektor pertanian.
Selain menjadi acuan teknis pelaksanaan irigasi, penyusunan dokumen ini juga diarahkan untuk mendukung peningkatan efisiensi pengelolaan air sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih terencana.
Sinergi Kelembagaan Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Pada sesi diskusi, forum mengangkat tema “Sinergi Kelembagaan Pengelola Irigasi dalam Upaya Adaptasi Bencana Hidrometeorologi di DIY.” Materi disampaikan oleh Dr. Ngadisih, S.T.P., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., dimoderatori oleh Dr. Eng. Ansita Gupitakingkin Pradipta, S.T., M.Eng., IPM. yang membahas pentingnya penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan dalam menghadapi meningkatnya risiko hidrometeorologi, seperti kekeringan, banjir, dan perubahan pola curah hujan.
Pembahasan menekankan bahwa pengelolaan irigasi tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga memerlukan sinergi kelembagaan, perencanaan berbasis data, serta koordinasi lintas sektor. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem irigasi yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus mampu menjaga keberlanjutan layanan irigasi bagi sektor pertanian.
Optimalisasi Pengelolaan Air Berbasis Perencanaan
Selain membahas aspek kelembagaan, forum juga menyoroti peran Rencana Tata Tanam Global sebagai instrumen dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air, meningkatkan efisiensi distribusi air irigasi, serta menyelaraskan pola tanam dengan kondisi hidrologi di lapangan.
Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan air diharapkan dapat berlangsung secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan, sehingga mampu mendukung produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan kondisi iklim yang semakin dinamis.
Mendorong Kolaborasi Berbasis Ilmu Pengetahuan

Sebagai forum koordinasi lintas sektor, Sidang Ke-2 Komisi Irigasi DIY Tahun 2026 diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung kebijakan pengelolaan irigasi yang berbasis ilmu pengetahuan.
Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan sistem irigasi yang tangguh terhadap tantangan hidrometeorologi, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya air, serta mendukung ketahanan pangan dan pembangunan pertanian berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta.