Yogyakarta – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) melalui Pusat Kajian Modernisasi Irigasi dan Pertanian (PKMIP) menyelenggarakan kegiatan diskusi bertajuk pengenalan dan implementasi SIPASI 2.0 pada Jumat, 10 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dalam upaya mendorong implementasi program modernisasi irigasi di Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri secara luring oleh Dr. Dani Riyadi selaku Kepala Subdirektorat Data dan Pengembangan Sistem Informasi, Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air dan Dr Vicky Ariyanti sekalu Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak beserta jajarannya. Sementara itu, sejumlah pejabat dan perwakilan instansi turut hadir secara daring, antara lain Direktur Irigasi dan Rawa, Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan, perwakilan Balai Teknik Irigasi, serta perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang.

Kegiatan diskusi ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, Sumber Daya Manusia, dan Sistem Informasi FTP UGM, Prof. Dr. Kuncoro Harto Widodo, S.T.P., M.Eng., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan pemerintah dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya air yang semakin kompleks, termasuk perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, serta kebutuhan peningkatan efisiensi layanan irigasi. Sambutan juga disampaikan oleh Dr. Dani Riyadi selaku Kepala Subdirektorat Data dan Pengembangan Sistem Informasi, Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, yang menekankan pentingnya penguatan sistem informasi sumber daya air yang terintegrasi sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat dalam pengelolaan irigasi.
Konsep Modernisasi Irigasi dan SIPASI 2.0 sebagai Proses Bertahap Modernisasi

Sebagai pengantar konseptual, Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng selaku Guru Besar di bidang teknik dan manajemen irigasi FTP UGM sekaligus Dewan Pakar PKMIP menyampaikan hakikat modernisasi irigasi. Ia menekankan bahwa modernisasi irigasi tidak semata-mata identik dengan penerapan teknologi, melainkan merupakan proses transformasi sistem yang mencakup aspek teknis, kelembagaan, dan sumber daya manusia secara terintegrasi.

Paparan utama disampaikan oleh Ketua PKMIP, Dr.Eng. Ansita Gupitakingkin Pradipta, S.T., M.Eng., yang menjelaskan modernisasi irigasi sebagai bridging process atau proses bertahap. Dalam kerangka ini, modernisasi dipahami sebagai upaya menjembatani kondisi eksisting sistem irigasi menuju sistem yang lebih adaptif, efektif, efisien, dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut menekankan bahwa implementasi modernisasi tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus disesuaikan dengan tingkat kesiapan masing-masing daerah irigasi, baik dari sisi infrastruktur, kelembagaan, maupun kapasitas sumber daya manusia. Lebih lanjut, disampaikan bahwa dalam proses bertahap tersebut, pengembangan sistem berbasis data dan teknologi digital menjadi salah satu arah penting. Dalam konteks ini, SIPASI hadir sebagai salah satu bentuk implementasi menuju pengelolaan irigasi modern yang memanfaatkan integrasi data, pemantauan kondisi lapangan, serta dukungan analisis untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Penjelasan Teknis dan Studi Kasus Implementasi
Paparan teknis mengenai sistem SIPASI disampaikan oleh Ir. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Sc., Ph.D., yang menjelaskan peran SIPASI sebagai bagian dari smart irrigation water management. Sistem ini dirancang untuk mendukung pengelolaan air irigasi berbasis data secara lebih terintegrasi, mulai dari perencanaan hingga operasional di lapangan. Selanjutnya, Petrus Bambang Edi Subiantara bersama Yohanes Sujut Triyanta memaparkan implementasi SIPASI 2.0 pada Daerah Irigasi Tabo-tabo. Pengalaman ini menunjukkan bahwa penerapan sistem berbasis data mampu mendukung peningkatan efisiensi distribusi air serta perencanaan pola tanam yang lebih terarah.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta. Perwakilan Direktorat Irigasi dan Rawa menyoroti pentingnya kemudahan dalam pengambilan dan pengolahan data, serta kesiapan anggaran operasional yang mencakup kebutuhan hosting dan pengiriman data. Selain itu, aspek kelembagaan menjadi perhatian, khususnya terkait perlunya pembinaan kelompok petani dalam mendukung implementasi teknologi di lapangan, mengingat pada beberapa daerah irigasi kelembagaan tersebut belum terbentuk secara optimal. Menanggapi hal tersebut, Prof. Sigit Supadmo Arif menekankan bahwa modernisasi irigasi perlu dipahami sebagai sebuah konsep bersama oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk petani, yang dapat diperkuat melalui program pelatihan berkelanjutan dan pengembangan knowledge management center untuk menjamin keberlanjutan implementasi.
Integrasi Sistem dan Kebijakan Nasional

Dari sisi kebijakan dan sistem, Dr. Dani Riyadi menyampaikan bahwa pengembangan SIPASI perlu diarahkan untuk terintegrasi dalam platform besar sistem data sumber daya air nasional yang mencakup berbagai sektor, seperti sungai dan bendungan, serta melibatkan multi instansi. Integrasi ini dinilai penting untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat, sekaligus meningkatkan kualitas layanan pemerintah kepada masyarakat. Sementara itu, Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan menyoroti pentingnya keberlanjutan sistem melalui mekanisme pemeliharaan yang jelas, fleksibilitas dalam penerapan teknologi, serta kemungkinan penerapan bertahap tanpa harus memenuhi seluruh komponen secara sekaligus. Hal ini diperkuat oleh tanggapan Prof. Sigit Supadmo Arif yang menegaskan bahwa modernisasi irigasi merupakan hak seluruh daerah irigasi, namun tetap memerlukan pemenuhan prasyarat teknis tertentu, serta memungkinkan penerapan teknologi secara selektif.
Aspek Teknis dan Ekonomi Implementasi Serta Dampaknya

Diskusi juga mencakup aspek teknis dan ekonomi implementasi SIPASI. Perwakilan Balai Teknik Irigasi mengangkat pentingnya analisis biaya dan manfaat, termasuk dampak terhadap produktivitas pertanian, depresiasi alat, serta skema pengelolaan dan keterbukaan data. Menanggapi hal tersebut, tim SIPASI menjelaskan bahwa biaya perangkat lunak relatif tidak menjadi kendala utama, namun terdapat kebutuhan biaya operasional dan pemeliharaan yang perlu menjadi perhatian. Sistem SIPASI dirancang fleksibel dengan pengelolaan data yang terbuka secara terbatas.
Lebih lanjut, Ketua PKMIP, Dr. Ansita Gupitakingkin Pradipta, menegaskan bahwa dampak implementasi SIPASI tidak dapat dilihat secara parsial, melainkan perlu dipahami secara sistemik dalam kerangka modernisasi irigasi berbasis lima pilar. Berdasarkan hasil evaluasi pada beberapa daerah irigasi yang telah mengimplementasikan modernisasi irigasi, menunjukkan adanya dampak positif pada sejumlah indikator, antara lain peningkatan produktivitas air, penurunan biaya operasi dan pemeliharaan, serta penurunan potensi kerusakan lingkungan. Dari sisi implementasi lapangan, sistem ini juga berpotensi mendukung peningkatan indeks pertanaman, meskipun pengembangan model prediksi masih terus disempurnakan.
Selain itu, perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak menanyakan peluang integrasi SIPASI dengan sistem lain yang telah ada, khususnya dalam konteks pengembangan wilayah irigasi yang sedang direhabilitasi. Menanggapi hal tersebut, disampaikan bahwa integrasi antar sistem memerlukan pembahasan lebih lanjut pada tingkat kebijakan, termasuk terkait pengelolaan source code dan pengembangan platform di masing-masing wilayah. Secara umum, disepakati bahwa pengembangan sistem seperti SIPASI perlu dilakukan secara adaptif dan kontekstual, dengan mempertimbangkan kebutuhan serta kesiapan masing-masing daerah irigasi.
Melalui kegiatan ini, PKMIP FTP UGM menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan kajian dan implementasi modernisasi irigasi berbasis riset yang aplikatif dan berkelanjutan. Keterlibatan aktif dalam diskusi lintas pemangku kepentingan, pengembangan sistem seperti SIPASI 2.0, serta kontribusi dalam penyusunan rekomendasi berbasis data mencerminkan profesionalitas PKMIP dalam menjembatani kebutuhan akademik dan praktik lapangan. Pendekatan yang sistematis, adaptif, dan kolaboratif ini menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak hanya kuat secara ilmiah, tetapi juga implementatif dan relevan dengan kebutuhan pengelolaan irigasi di Indonesia.
Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).