SINGAPURA – Kesempatan untuk mengikuti studi banding ke Singapore Institute of Technology (SIT) pada 11 Juni 2026 menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya sebagai peneliti di Smart Agriculture Research Center (SARC) Universitas Gadjah Mada (UGM). Kunjungan ini merupakan bagian dari inisiatif strategis UGM dalam mempersiapkan pengembangan ekosistem kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat secara nyata.
Tim UGM yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, Sp.A., Ph.D., Dr. Nur Mohammad Farda, S.Si., M.Cs., Ir. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Sc., Ph.D., serta Muhammad Alif Taufiqurrahman, S.Kom., M.Kom.. Keempat anggota tim mewakili bidang keahlian yang berbeda, mulai dari kesehatan, penginderaan jauh (remote sensing), pertanian cerdas (smart agriculture), hingga sistem informasi dan transformasi digital.
Kunjungan ini merupakan bagian dari inisiatif strategis UGM dalam mempersiapkan pengembangan ekosistem kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat. Melalui kolaborasi yang sedang dirintis bersama NVIDIA dan mitra industri, UGM tengah mengembangkan konsep pusat AI yang tidak hanya menjadi wadah penelitian unggulan, tetapi juga mampu mempercepat hilirisasi inovasi dan transformasi digital di berbagai sektor strategis.
Dalam kunjungan tersebut, tim UGM berkesempatan mengunjungi SIT x NVIDIA AI Centre (SNAIC), sebuah pusat unggulan AI yang dikembangkan melalui kolaborasi antara Singapore Institute of Technology dan NVIDIA. Kami diterima langsung oleh Associate Professor Daniel Wang Zhengkui selaku Co-Director SNAIC, bersama Associate Professor Aik Beng Ng, Dr. Timothy Liu, serta sejumlah peneliti dan research engineer yang terlibat dalam berbagai proyek AI strategis di Singapura.

AI yang Berangkat dari Kebutuhan Industri
Salah satu pelajaran paling penting yang saya peroleh dari SNAIC adalah bagaimana seluruh aktivitas penelitian mereka berangkat dari kebutuhan industri. Berbeda dengan pendekatan akademik konvensional yang sering kali dimulai dari ketertarikan ilmiah semata, SNAIC membangun riset berdasarkan permasalahan nyata yang dihadapi sektor industri dan masyarakat.
Model kolaborasi yang diterapkan juga sangat sistematis. Proses dimulai dari identifikasi kebutuhan mitra melalui pre-engagement questionnaire, dilanjutkan konsultasi teknis, perancangan solusi, pengembangan teknologi, hingga program pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Pendekatan ini memberikan inspirasi yang sangat relevan bagi pengembangan Smart Agriculture Research Center UGM. Sebagai pusat riset yang berfokus pada transformasi digital pertanian, SARC tidak hanya perlu menghasilkan publikasi ilmiah berkualitas, tetapi juga mampu menyediakan layanan dan solusi yang memberikan dampak nyata bagi petani, industri pangan, pemerintah, dan masyarakat luas.
Pertanian sebagai Flagship AI UGM
Dalam berbagai diskusi bersama peneliti SNAIC, saya melihat peluang besar bagi sektor pertanian untuk menjadi salah satu flagship implementasi AI di Indonesia.
Indonesia memiliki tantangan yang kompleks dalam bidang pangan, mulai dari produktivitas lahan, efisiensi penggunaan air dan pupuk, mitigasi perubahan iklim, hingga regenerasi petani. Tantangan tersebut membutuhkan pendekatan berbasis data dan teknologi cerdas yang mampu menghasilkan keputusan secara cepat dan akurat.
Sebagai peneliti di bidang Agricultural Informatics, saya melihat bahwa AI dapat berperan penting dalam berbagai aspek pertanian modern, antara lain:
- Sistem monitoring tanaman berbasis sensor dan Internet of Things (IoT);
- Analisis citra drone dan satelit untuk pemantauan pertumbuhan tanaman;
- Prediksi hasil panen dan risiko gagal panen;
- Optimalisasi penggunaan air dan nutrisi secara presisi;
- Pengembangan digital twin pertanian;
- Sistem pendukung keputusan berbasis AI untuk petani dan penyuluh;
- Integrasi Large Language Models (LLM) sebagai asisten cerdas di sektor pertanian.
Melalui diskusi tersebut, kami juga memperkenalkan berbagai inisiatif yang sedang dikembangkan di UGM, khususnya melalui Smart Agriculture Research Center, yang berupaya mengintegrasikan teknologi AI dengan kebutuhan sektor pertanian Indonesia.

Belajar dari Tata Kelola Pusat AI Kelas Dunia
Selain melihat berbagai demonstrasi teknologi seperti AI Debater, Automated Visual Acuity Testing (AutoVA), dan platform VISio yang mampu mengubah flowchart menjadi workflow AI secara otomatis, saya juga tertarik pada aspek tata kelola pusat riset yang diterapkan oleh SNAIC.
SNAIC mengembangkan tiga pilar utama, yaitu:
- Industry Enablement;
- Applied Research and Development;
- Talent Development.
Model ini memungkinkan pusat riset tidak hanya menjadi tempat penelitian, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Bagi Smart Agriculture Research Center UGM, pendekatan tersebut memberikan inspirasi mengenai pentingnya menentukan niche expertise yang jelas, membangun portofolio layanan profesional, serta menciptakan model keberlanjutan yang tidak hanya bergantung pada hibah penelitian, tetapi juga melalui layanan konsultasi, pengembangan sistem, pelatihan, dan kolaborasi industri.
Selain itu, tampilan website dan branding profesional yang dimiliki SNAIC menunjukkan bagaimana sebuah pusat riset dapat membangun kredibilitas dan visibilitas internasional melalui komunikasi yang baik kepada publik dan calon mitra.
Membuka Peluang Kolaborasi Internasional
Diskusi kemudian dilanjutkan dalam suasana yang lebih santai saat makan siang bersama di kawasan Punggol, Singapura. Dalam kesempatan tersebut, berbagai peluang kolaborasi antara UGM dan SIT dibahas secara lebih mendalam, mulai dari penulisan publikasi bersama, pengajuan proposal penelitian internasional, program pertukaran mahasiswa dan staf, hingga peluang studi lanjut bagi mahasiswa UGM.
Bagi saya, kolaborasi internasional seperti ini sangat penting untuk mempercepat pengembangan kapasitas riset AI di Indonesia. Tantangan sektor pertanian, pangan, kesehatan, maupun lingkungan saat ini bersifat global dan membutuhkan kerja sama lintas negara serta lintas disiplin ilmu.
Menuju Ekosistem AI untuk Pertanian Indonesia
Kunjungan ke SNAIC memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana sebuah pusat AI dapat menjadi katalis inovasi nasional melalui kolaborasi erat antara universitas, industri, dan pemerintah.
Sebagai bagian dari Smart Agriculture Research Center UGM, saya melihat bahwa pengalaman ini dapat menjadi referensi penting dalam membangun pusat unggulan AI yang berfokus pada transformasi pertanian Indonesia. Dengan dukungan ekosistem yang kuat, kolaborasi internasional, serta fokus pada penyelesaian masalah nyata di lapangan, AI berpotensi menjadi salah satu penggerak utama terciptanya sistem pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan.
Melalui pembelajaran dari SNAIC, kami semakin optimistis bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat inovasi AI di kawasan Asia Tenggara, khususnya dalam pengembangan teknologi cerdas untuk sektor pertanian dan pangan.
Bagi saya, kunjungan ini tidak hanya memberikan wawasan mengenai teknologi AI terkini, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah pusat AI dapat dibangun secara berkelanjutan melalui sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah. Pembelajaran dari SNAIC menjadi referensi yang sangat berharga dalam proses pengembangan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC) di UGM. Dengan kekuatan riset multidisiplin yang dimiliki UGM, termasuk bidang pertanian, kesehatan, lingkungan, dan transformasi digital, kami optimistis pusat AI yang sedang dirintis dapat menjadi katalisator lahirnya inovasi-inovasi berdampak bagi Indonesia.
Kontributor: Dr. Andri Prima Nugroho, Research Coordinator Smart Agriculture Research Center, Department of Agricultural and Biosystems Engineering UGM