Banjarbaru, 23 Juli 2026 – Peningkatan produktivitas hortikultura tidak hanya bergantung pada penggunaan benih unggul, tetapi juga pada kemampuan petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Menjawab tantangan tersebut, dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), Ardan Wiratmoko, S.T.P., M.Sc., menjadi narasumber dalam kegiatan “Penguatan Kapasitas Petani melalui Penerapan Teknologi Budidaya Hortikultura untuk Meningkatkan Produktivitas Berkelanjutan” yang diselenggarakan pada Kamis, 23 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program CSR HILING (Penghijauan dan Pengelolaan Lingkungan) yang diinisiasi oleh PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Syamsudin Noor. Pelatihan berlangsung di kawasan Kelompok Tani Ngudi Rahayu, Jalan Tambak Tarap RT 40 RW 06, Kelurahan Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru, dan diikuti sekitar 40 anggota kelompok tani serta petani di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Meningkatkan Kapasitas Petani melalui Pendekatan Teknologi Tepat Guna

Kelompok Tani Ngudi Rahayu selama ini membudidayakan berbagai komoditas hortikultura, seperti cabai, melon, sawi, bayam, dan beragam tanaman sayuran lainnya. Namun, dalam praktik budidayanya petani masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain serangan penyakit daun keriting, tanaman layu, busuk akar, pertumbuhan vegetatif yang belum optimal, rendahnya produktivitas melon, hingga pengelolaan air dan nutrisi yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Melalui kegiatan ini, Ardan menyampaikan materi mengenai strategi peningkatan produktivitas hortikultura melalui identifikasi permasalahan budidaya, pengelolaan tanah dan nutrisi, pemupukan yang efisien, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), serta penerapan teknologi budidaya dan sistem irigasi yang sesuai dengan karakteristik lahan.
Menurut Ardan, penerapan teknologi dalam pertanian harus disesuaikan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi petani di lapangan.
“Teknologi pertanian tidak harus selalu rumit dan mahal. Teknologi perlu dipilih berdasarkan permasalahan, kondisi lahan, komoditas, dan kemampuan petani agar benar-benar memberikan manfaat terhadap efisiensi air, pengelolaan nutrisi, serta produktivitas tanaman,” ujar Ardan.
Diskusi Lapangan untuk Menyusun Rekomendasi Teknologi
Selain sesi pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif, identifikasi permasalahan budidaya, serta observasi lapangan bersama para petani. Pendekatan tersebut bertujuan membantu petani memahami keterkaitan antara karakteristik tanah, kesehatan tanaman, pengelolaan air, penggunaan pupuk, dan pemilihan teknologi budidaya yang tepat.
Hasil observasi lapangan selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rekomendasi pengembangan sarana produksi serta teknologi prioritas yang dapat diterapkan oleh Kelompok Tani Ngudi Rahayu secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Rahayu, Sakim, mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan solusi yang relevan terhadap permasalahan yang dihadapi petani sehari-hari.
“Kami menjadi lebih memahami bahwa kondisi tanah, pemupukan, pengelolaan air, dan kesehatan tanaman saling berkaitan. Kami berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan melalui pendampingan dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani serta kondisi lahan kami,” ungkap Sakim.
Sinergi Perguruan Tinggi, Industri, dan Masyarakat

AFT Manager Syamsudin Noor, Dimas Budiman, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pertanian berkelanjutan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Melalui Program HILING, kami ingin mendukung pengembangan pertanian hortikultura yang lebih produktif dan ramah lingkungan. Kolaborasi dengan UGM diharapkan dapat memperkuat kapasitas petani sekaligus mendorong kemandirian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelas Dimas.
Kolaborasi antara PT Pertamina Patra Niaga AFT Syamsudin Noor, Universitas Gadjah Mada, dan Kelompok Tani Ngudi Rahayu diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi teknis mengenai praktik budidaya, pengelolaan air, kebutuhan sarana produksi, serta penerapan teknologi prioritas yang dapat diimplementasikan secara bertahap.
Melalui sinergi antara dunia akademik, industri, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas petani dalam mengelola usaha tani hortikultura yang lebih produktif, efisien, adaptif terhadap tantangan lingkungan, serta berkelanjutan. Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan kontribusi Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM dalam mendukung transfer teknologi dan inovasi kepada masyarakat sebagai bagian dari penguatan sektor pertanian nasional.