Makassar, 23 Juli 2026 – Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan salah satu produsen rumput laut terbesar secara global, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ekonomi biru (blue economy) melalui pengembangan teknologi budidaya yang inovatif dan berkelanjutan. Untuk mendukung upaya tersebut, dosen dan peneliti Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) berpartisipasi dalam Partnership for Australia–Indonesia Research (PAIR) Sulawesi Annual Meeting 2026 guna memperkuat pengembangan Smart Seaweed, sebuah pendekatan budidaya rumput laut berbasis teknologi digital, otomasi, dan sistem pendukung keputusan (Decision Support System) yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta daya saing sektor rumput laut Indonesia.
Kolaborasi Indonesia–Australia Perkuat Riset Smart Seaweed
PAIR Sulawesi Annual Meeting 2026 diselenggarakan pada 20–23 Juli 2026 di UNHAS Hotel & Convention, Universitas Hasanuddin, Makassar, dengan mengusung tema “Coastal Communities Sulawesi: Science, Policy and Action.” Kegiatan ini menjadi forum tahunan yang mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, mitra pembangunan, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mempresentasikan capaian penelitian, mengevaluasi pelaksanaan program, dan menyusun arah kolaborasi pada tahun berikutnya.
Delegasi DTPB FTP UGM terdiri atas Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., Ir. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., dan Samuel Gatot Marseno, S.TP. Kehadiran tim UGM merupakan bagian dari penelitian Sea-Tech: Sustainable Seaweed Cultivation through Smart Technology and Automation, yang berfokus pada pengembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan budidaya rumput laut.
PAIR Sulawesi merupakan program riset bilateral yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) serta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini dikelola oleh Australia-Indonesia Centre (AIC), Monash University, bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin.
Saat ini PAIR Sulawesi melibatkan 19 universitas dan sekitar 180 peneliti yang bekerja di enam provinsi di Sulawesi dengan fokus pada tiga tema utama, yaitu ekonomi sirkular sektor rumput laut, transisi menuju fasilitas kesehatan net zero, serta perubahan iklim dan kesehatan.
Mengembangkan Smart Seaweed Berbasis Data dan Teknologi Digital

Bagi DTPB FTP UGM, keterlibatan dalam PAIR Sulawesi menjadi bagian dari kontribusi bidang teknik pertanian dan biosistem dalam mengembangkan sistem budidaya rumput laut berbasis teknologi. Pendekatan yang dikembangkan meliputi integrasi data lapangan, teknologi pemantauan, otomasi, serta pengembangan dashboard dan Decision Support System (DSS) bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan.
Melalui sistem tersebut, data produksi, kondisi lingkungan, rantai pasok, hingga dinamika budidaya rumput laut dapat dianalisis secara lebih komprehensif untuk mendukung pengambilan keputusan yang berbasis data (data-driven decision making).
Ir. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa pengembangan teknologi harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat pesisir.
“Teknologi yang dikembangkan harus berangkat dari kondisi nyata yang dihadapi petani rumput laut. Pertemuan ini memberikan ruang bagi para peneliti dan pemangku kepentingan untuk menyatukan data, pengalaman lapangan, dan kebutuhan kebijakan agar inovasi yang dihasilkan benar-benar dapat diterapkan dan memberikan manfaat,” jelas Andri.
Menghubungkan Hasil Survei Lapangan dengan Pengembangan Dashboard Pemerintah
Partisipasi DTPB FTP UGM dalam PAIR Sulawesi Annual Meeting 2026 merupakan kelanjutan dari kegiatan survei lapangan yang sebelumnya dilaksanakan di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada 25–27 Januari 2026.
Pada kegiatan tersebut, tim peneliti mengumpulkan berbagai data mengenai kondisi produksi rumput laut, harga pasar, rantai pasok, serta kelembagaan di tingkat daerah.
Seluruh data tersebut menjadi dasar dalam pengembangan Government User Interface Dashboard, yaitu sistem informasi yang dirancang untuk membantu pemerintah daerah memantau perkembangan sektor rumput laut secara lebih terukur, transparan, dan berbasis bukti (evidence-based policy).
Melalui forum tahunan PAIR Sulawesi, hasil survei tersebut dipresentasikan dan didiskusikan bersama para peneliti lintas disiplin sebagai bagian dari penyempurnaan pengembangan teknologi Smart Seaweed.
Memperkuat Kolaborasi Multidisiplin untuk Pembangunan Pesisir Berkelanjutan
Diskusi pada PAIR Sulawesi Annual Meeting menunjukkan bahwa pengembangan sektor rumput laut tidak cukup hanya melalui inovasi budidaya. Diperlukan integrasi berbagai bidang keilmuan, mulai dari teknik pertanian, teknologi informasi, penginderaan jauh, ekonomi sirkular, tata kelola, hingga kebijakan publik.
Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., menegaskan bahwa pendekatan teknik pertanian dan biosistem memiliki peran penting dalam menghubungkan data lapangan dengan kebutuhan pengelolaan.
“Tantangannya bukan sekadar menghasilkan teknologi atau menampilkan data, tetapi membangun sistem yang dapat digunakan untuk membaca kondisi lapangan, mengidentifikasi risiko, dan mendukung keputusan. Karena itu, kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat menjadi bagian yang sangat penting,” ujar Prof. Lilik.
Rangkaian kegiatan PAIR Sulawesi Annual Meeting 2026 meliputi sidang pleno tingkat tinggi, forum kebijakan mengenai ekonomi sirkular, net zero, perubahan iklim dan kesehatan, diskusi antarkelompok riset, hingga penutupan yang dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia.
Mendorong Transformasi Budidaya Rumput Laut melalui Inovasi Smart Agriculture

Melalui partisipasi dalam PAIR Sulawesi Annual Meeting 2026, DTPB FTP UGM menegaskan komitmennya untuk mengembangkan teknologi pertanian dan biosistem yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Pengembangan Smart Seaweed diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pemantauan budidaya, mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat, meningkatkan kesejahteraan petani rumput laut, serta memperkuat keberlanjutan ekonomi kawasan pesisir Indonesia.
Sejalan dengan semangat kolaborasi internasional, kegiatan ini juga membuka peluang yang lebih luas bagi DTPB FTP UGM untuk memperkuat jejaring penelitian bersama berbagai perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra internasional dalam mewujudkan transformasi sektor kelautan berbasis teknologi dan inovasi.