Yogyakarta, 19 Agustus 2026 – Tanah bukan sekadar media tempat tanaman tumbuh, tetapi merupakan sistem kompleks yang memiliki peran penting dalam produksi pangan, pengaturan air, penyimpanan karbon, siklus hara, hingga menjaga biodiversitas. Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam International Guest Lecture “Soil Function for Agriculture” yang diselenggarakan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), pada Rabu (19/8).
Kegiatan menghadirkan Priv.-Doz. Rebecca Hood-Nowotny, M.B.A., Ph.D., dari Institute for Soil Research, Department of Ecosystem Management, Climate and Biodiversity, BOKU University, Austria, sebagai narasumber. Kuliah tamu dimoderatori oleh Dr.nat.techn. Rizki Maftukhah, S.T.P., M.Sc., dosen DTPB FTP UGM, dan diikuti oleh mahasiswa di lingkungan DTPB FTP UGM.
Melalui kuliah tersebut, peserta diajak melihat tanah dari perspektif yang lebih luas, tidak hanya sebagai tempat tumbuh tanaman, tetapi sebagai ekosistem yang menjalankan berbagai fungsi penting bagi keberlanjutan pertanian.
Memahami Beragam Fungsi Tanah dalam Pertanian

Mengawali pemaparannya, Rebecca mengajak peserta untuk kembali mempertanyakan peran dasar tanah dalam ekosistem. Menurutnya, tanah memiliki sejumlah fungsi utama yang sangat erat dengan kehidupan manusia dan keberlanjutan pertanian.
Tanah berfungsi sebagai media pertumbuhan tanaman yang menyediakan kebutuhan produksi pangan, serat, dan bahan bakar. Selain itu, tanah memiliki peran dalam regulasi iklim dan sekuestrasi karbon, penyediaan unsur hara, regulasi dan pemurnian air, serta menjadi habitat bagi berbagai organisme dan biodiversitas tanah.
Rebecca juga menjelaskan bahwa tanah merupakan lingkungan yang kompleks karena tersusun atas interaksi aspek fisik, kimia, dan biologis. Struktur dan tekstur tanah berinteraksi dengan aktivitas fungi, bakteri, makrofauna, virus, serta akar tanaman dalam menjalankan berbagai proses di dalam tanah.
“The main soil functions are that soils are medium for plant growth, food, fibre, and fuel; climate regulation and carbon sequestration; nutrient delivery; water regulation and purification; and also the soil is a vast habitat for biodiversity,” jelas Rebecca dalam paparannya.
Tanah sebagai Fondasi Produksi Pangan
Salah satu fungsi penting tanah yang dibahas adalah perannya sebagai media pertumbuhan tanaman. Rebecca menjelaskan bahwa sebagian besar produksi pangan global memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan tanah.
Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa sekitar 95 persen produksi pangan global berkaitan dengan tanah, sementara sebagian lainnya berasal dari sistem produksi seperti akuakultur dan perikanan. Ia juga menjelaskan bahwa sekitar 20 persen lahan pertanian dunia menggunakan irigasi, tetapi lahan tersebut berkontribusi terhadap sekitar 40 persen produksi tanaman.
Tanah juga berperan sebagai jangkar bagi pertumbuhan tanaman sekaligus menyediakan air dan unsur hara. Rebecca menjelaskan bahwa sebagian besar akar tanaman berada pada lapisan tanah bagian atas, tempat kandungan bahan organik dan unsur hara relatif lebih tinggi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lapisan tanah atas menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus mempertahankan fungsi ekologis tanah.
Bahan Organik Berperan dalam Penyediaan Air dan Unsur Hara
Pembahasan kemudian diarahkan pada pentingnya bahan organik dalam mempertahankan fungsi tanah. Rebecca menjelaskan bahwa bahan organik memiliki efek seperti spons yang memungkinkan tanah menahan air ketika terjadi hujan.
Selain kemampuan menahan air, peningkatan bahan organik juga berkaitan dengan peningkatan ketersediaan unsur hara melalui proses mineralisasi. Dengan demikian, keberadaan bahan organik memiliki hubungan dengan kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan produktivitas pertanian.
Rebecca juga menekankan pentingnya proses infiltrasi dan perkolasi. Tanah yang sehat dan memiliki porositas baik dapat menyerap air hujan sehingga mengurangi limpasan permukaan dan risiko erosi. Stabilitas agregat tanah menjadi salah satu faktor yang mendukung kemampuan tersebut.
Tanah sebagai Penyimpan Karbon

Fungsi lain yang menjadi perhatian dalam kuliah tamu adalah kemampuan tanah dalam menyimpan karbon. Rebecca menjelaskan bahwa tanah merupakan salah satu reservoir karbon terestrial terbesar di dekat permukaan bumi.
Dalam konteks perubahan iklim, kemampuan tanah menyimpan karbon menjadi semakin penting karena dinamika karbon tanah dipengaruhi oleh keseimbangan antara produksi biomassa dan proses dekomposisi. Peningkatan suhu juga dapat mempercepat proses dekomposisi sehingga berpotensi meningkatkan pelepasan karbon dari tanah ke atmosfer.
Menurut Rebecca, lahan pertanian juga memiliki peluang untuk meningkatkan kemampuan sekuestrasi karbon melalui berbagai strategi pengelolaan. Dengan demikian, upaya mitigasi perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan kawasan hutan, tetapi juga dapat dilakukan melalui pengelolaan tanah pertanian secara tepat.
Menjaga Tanah melalui Pengelolaan Karbon
Dalam bagian akhir pemaparannya, Rebecca menekankan bahwa peningkatan fungsi tanah memiliki hubungan erat dengan peningkatan kandungan karbon tanah.
Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain meminimalkan gangguan terhadap tanah melalui praktik no-till atau low-till, mempertahankan akar hidup selama mungkin, menjaga permukaan tanah tetap tertutup dengan mulsa, mengintegrasikan ternak secara tepat, serta meningkatkan diversifikasi tanaman.
Ia juga menjelaskan bahwa input karbon dari bagian bawah tanah, khususnya akar, memiliki peran penting dalam pengelolaan karbon tanah. Karena itu, strategi pengelolaan pertanian perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap sistem perakaran dan keberadaan tanaman secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan tanah berkelanjutan tidak hanya berfokus pada hasil produksi dalam satu musim, tetapi juga pada kemampuan tanah mempertahankan fungsi ekologisnya dalam jangka panjang.
Biodiversitas Tanah Mendukung Kesehatan Ekosistem
Selain karbon dan air, biodiversitas tanah menjadi bagian penting dari materi yang disampaikan. Rebecca menjelaskan bahwa tanah merupakan habitat bagi komunitas mikroorganisme yang sangat beragam.
Dalam satu sendok teh tanah, terdapat jutaan mikroorganisme yang berkontribusi terhadap berbagai proses ekologis. Keanekaragaman tersebut menciptakan lingkungan yang kompleks dan mendukung berbagai fungsi tanah.
Rebecca juga menjelaskan hubungan antara keanekaragaman mikroba dengan kemampuan tanah dalam menekan organisme patogen. Komunitas mikroorganisme yang aktif dan beragam dapat meningkatkan kompetisi terhadap organisme patogen sehingga mendukung kesehatan tanah. Ia mengibaratkan komunitas mikroba tanah dengan mikrobioma dalam tubuh manusia, di mana komunitas yang sehat dapat meningkatkan ketahanan terhadap organisme yang merugikan.
Perspektif tersebut memperkuat pemahaman bahwa menjaga tanah berarti juga menjaga kehidupan mikroskopis yang berada di dalamnya.
Membuka Wawasan Mahasiswa tentang Pertanian Berkelanjutan

International Guest Lecture “Soil Function for Agriculture” memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh perspektif internasional mengenai ilmu tanah dan penerapannya dalam sistem pertanian modern.
Melalui materi yang disampaikan Rebecca, mahasiswa diajak memahami bahwa produktivitas pertanian tidak dapat dilepaskan dari kemampuan tanah dalam menjalankan berbagai fungsi ekologis. Produksi pangan, siklus hara, pengaturan air, penyimpanan karbon, dan biodiversitas merupakan fungsi yang saling berkaitan dalam membentuk sistem pertanian yang berkelanjutan.
Sesi diskusi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan mengenai kesehatan tanah, mikroorganisme, dan pengelolaan tanah yang terkontaminasi. Salah satu diskusi membahas bagaimana mempertahankan mikroorganisme tanah yang bermanfaat ketika menghadapi permasalahan patogen. Rebecca menjelaskan bahwa peningkatan karbon organik dan keanekaragaman mikroba dapat menjadi bagian dari pendekatan untuk mendukung kesehatan tanah.
Memperkuat Internasionalisasi Pendidikan di DTPB FTP UGM
Kegiatan International Guest Lecture ini menjadi bagian dari upaya DTPB FTP UGM dalam memperluas wawasan akademik mahasiswa melalui interaksi dengan pakar internasional.
Kehadiran akademisi dari BOKU University, Austria, sekaligus memperkuat jejaring internasional dalam bidang ilmu tanah dan pertanian berkelanjutan. Pertukaran pengetahuan tersebut diharapkan dapat membuka perspektif baru bagi mahasiswa maupun sivitas akademika dalam mengembangkan riset dan inovasi yang menjawab tantangan pertanian serta lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, DTPB FTP UGM terus mendorong pendekatan pendidikan dan penelitian yang menempatkan tanah sebagai fondasi penting bagi produksi pangan, ketahanan ekosistem, dan keberlanjutan pertanian.
Pada akhirnya, pemahaman terhadap fungsi tanah tidak hanya penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga untuk memastikan bahwa sumber daya tanah tetap mampu menjalankan fungsi ekologisnya bagi generasi mendatang.