Desa Sambak Jadi Bukti Pengabdian Berdampak DTPB FTP UGM, FGD Pentahelix Siapkan Keberlanjutan Program

Magelang, 21 Mei 2026 – Setelah lebih dari empat tahun menjalankan program pendampingan di Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) menegaskan komitmennya terhadap pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kolaborasi Pentahelix dalam Pengelolaan Agrowisata Berbasis Zero Waste di Desa Sambak” yang mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam merancang keberlanjutan pengembangan Desa Sambak pasca berakhirnya dukungan hibah Yanmar Environmental Sustainability Support Agency (YESSA) dan program pembinaan DTPB FTP UGM yang telah berjalan sejak tahun 2022.

FGD dihadiri oleh Pemerintah Desa Sambak, perwakilan Pemerintah Kabupaten Magelang, berbagai dinas terkait, serta akademisi DTPB FTP UGM. Bupati Kabupaten Magelang diwakili oleh Nanda Cahyadi Pribadi, A.P., M.Si., Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda Litbang) Kabupaten Magelang. Sementara itu, Dekan FTP UGM diwakili oleh Dr. Sri Rahayoe, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama FTP UGM.

Sebagai narasumber, DTPB FTP UGM turut menghadirkan Prof. Subejo, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, untuk memberikan perspektif mengenai penguatan kelembagaan desa.

Desa Sambak: Dari Desa Binaan Menjadi Model Pengabdian Berdampak

Agroforestry Desa Sambak, salah satu skema pengabdian antara DTPB FTP UGM, YESSA dan Pemerintah Desa Sambak

Desa Sambak telah menjadi desa binaan DTPB FTP UGM sejak tahun 2022 melalui kolaborasi dengan Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), lembaga asal Jepang yang mendukung program keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Selama pendampingan, berbagai program telah dikembangkan, mulai dari pembangunan kawasan agroforestry, peningkatan produksi dan mutu kopi lokal, hingga pengembangan small medium tofu enterprise melalui penerapan teknologi produksi tahu yang lebih efisien dan ramah lingkungan menggunakan steam boiler.

Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pengabdian perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada transfer teknologi, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa yang berkelanjutan.

Dari Pendampingan Menuju Kemandirian Desa

Kepala Desa Sambak Bapak Dahlan (Kiri) dan Prof. Lilik Sutiarso (Kanan)

Kepala Desa Sambak, Dahlan, menyampaikan apresiasinya terhadap pendampingan yang telah dilakukan selama ini.

“Masih banyak yang Desa Sambak butuhkan untuk mencapai angan-angan yang diinginkan warga kami. Terima kasih atas kegiatan dan bantuan DTPB dan YESSA kepada desa kami,” ujarnya.

Ketua Tim DTPB–YESSA, Prof. Lilik Sutiarso, menegaskan bahwa empat tahun program pendampingan bukan menjadi akhir dari perjalanan kolaborasi.

“Empat tahun ini bukan akhir dari program kami, melainkan serah terima dari DTPB UGM dan YESSA kepada Desa Sambak untuk dikelola, dirawat, dan dikembangkan. Kami berharap instansi pemerintah bersama masyarakat Desa Sambak dapat mulai merintis program lanjutan yang berasal dari kebutuhan desa sendiri,” jelasnya.

Beliau menambahkan bahwa selama proses pendampingan, Desa Sambak juga berkembang menjadi ruang pembelajaran dan penelitian.

“Berbagai penelitian lokal maupun internasional telah dilakukan di Desa Sambak. Berbagai aset dan peralatan juga telah ditempatkan di sana. Ke depan, semua potensi tersebut perlu dikemas dan dikelola bersama agar manfaatnya dapat semakin luas,” tambahnya.

Prof. Lilik juga menegaskan bahwa DTPB FTP UGM akan tetap membuka ruang pendampingan dan diskusi meskipun program hibah telah berakhir.

Penguatan Kelembagaan Jadi Kunci Keberlanjutan

Prof Subejo memaparkan materi penguatan kelembagaan desa 

Dalam sesi diskusi, Prof. Subejo menekankan bahwa keberhasilan pengembangan desa sangat ditentukan oleh kelembagaan yang kuat.

“Berbicara kelembagaan berarti berbicara mengenai organisasi yang kuat serta aturan dan tata kelola yang kuat. Tanpa kelembagaan yang baik, cita-cita dan keunikan yang ingin dicapai desa akan sulit diwujudkan,” jelasnya.

Beliau juga menyoroti tantangan sektor pertanian saat ini, mulai dari menurunnya jumlah tenaga kerja pertanian hingga fenomena alih fungsi lahan.

Bapak Nanda Cahyadi Pribadi, Membacakan pesan sambutan dari Bupati Magelang

Pandangan tersebut diperkuat oleh Bapak Nanda Cahyadi Pribadi, yang menilai ekosistem Desa Sambak sebenarnya telah terbentuk dan siap diperkuat melalui aspek kelembagaan.

“Desa ini ekosistemnya sudah terbentuk. Sekarang prioritas berikutnya adalah memperkuat kelembagaannya. Aturan yang mengikat melalui peraturan desa menjadi penting agar program yang ada memiliki keberlanjutan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi perkembangan Desa Sambak dan menyampaikan dukungan pemerintah daerah untuk pengembangannya ke depan.

Sinergi Pentahelix Dorong Agrowisata Berkelanjutan

Berbagai dinas juga menyampaikan peluang dukungan lintas sektor. Dinas Peternakan dan Perikanan membuka peluang kerja sama pembelajaran dengan kelompok binaan peternakan. Dinas Pertanian menyatakan dukungan terhadap pengembangan komoditas pangan dan hortikultura, termasuk alpukat.

Sementara itu, Dinas Pariwisata menilai Desa Sambak memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai agrowisata berkelanjutan.

Desa Sambak sendiri saat ini telah masuk kategori desa wisata berkembang di Kabupaten Magelang, dengan potensi penguatan kelembagaan melalui pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) maupun penguatan BUMDes.

Komitmen DTPB FTP UGM untuk Pengabdian Berdampak

Keterlibatan DTPB FTP UGM di Desa Sambak mencerminkan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi dengan penelitian dan inovasi.

Selama empat tahun terakhir, Desa Sambak tidak hanya menjadi lokasi pendampingan, tetapi juga berkembang menjadi laboratorium sosial dan ruang implementasi berbagai hasil riset yang melibatkan peneliti lokal maupun internasional.

Pendekatan yang dilakukan DTPB FTP UGM menunjukkan bahwa pengabdian tidak berhenti pada penyelesaian program, melainkan berfokus pada penciptaan ekosistem yang mampu tumbuh, dikelola masyarakat, dan memberikan dampak sosial-ekonomi secara berkelanjutan.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses