Yogyakarta, 21 Mei 2026 – Di tengah meningkatnya tren pasar specialty chocolate dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam industri kakao premium global. Namun, di balik potensi tersebut, terdapat persoalan mendasar yang masih perlu dibenahi, terutama pada aspek hulu produksi. Gagasan tersebut disampaikan Dr. Arifin Dwi Saputro dalam wawancara bersama The Conversation Indonesia, platform jurnalisme akademik yang dikenal menghubungkan hasil riset dan perspektif ilmiah dengan isu-isu strategis yang relevan bagi masyarakat luas.
Sebagai platform jurnalisme akademik internasional, The Conversation Indonesia menghadirkan analisis dan pandangan para akademisi untuk menjembatani hasil penelitian dengan ruang publik dan pengambilan kebijakan. Keterlibatan akademisi dalam platform tersebut menjadi sarana penting agar hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap diskursus publik.
Pandangan Dr. Arifin berangkat dari kapasitas akademik dan rekam jejak penelitiannya di bidang postharvest engineering, food engineering, pengolahan kakao, serta pengembangan nilai tambah komoditas pertanian tropis. Selain menjabat sebagai Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), ia juga aktif sebagai Tim Ahli Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM dan memiliki rekam jejak publikasi ilmiah serta sitasi akademik yang kuat pada bidang teknologi pascapanen dan hasil pertanian.
Dalam wawancara tersebut, Dr. Arifin mengangkat hasil kajian dan penelitian yang berkembang melalui forum Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) bersama Asosiasi Cokelat Bean to Bar Indonesia (ACBI). Forum tersebut menyoroti tantangan pengembangan kakao premium Indonesia, khususnya bagaimana kualitas di tingkat hulu menjadi faktor penentu daya saing produk pada pasar global. ACBI sendiri merupakan asosiasi yang mewadahi produsen cokelat artisan Indonesia berbasis kakao fermentasi dan mendorong penguatan standar kualitas kakao premium nasional.
Menurutnya, Indonesia selama ini masih cenderung diposisikan sebagai pemasok bahan baku, padahal peluang terbesar justru berada pada produk kakao bernilai tambah tinggi dengan karakter premium.
“Indonesia memiliki sumber daya dan potensi yang besar. Tantangannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi bagaimana meningkatkan kualitas dan menghasilkan nilai tambah sehingga produk kakao Indonesia mampu bersaing di pasar premium,” ungkap Dr. Arifin.
Ia menjelaskan bahwa pasar kakao premium tidak hanya menilai volume produksi, tetapi juga konsistensi mutu, karakter rasa, hingga aspek keberlanjutan dan ketertelusuran produk. Tantangan tersebut membuat proses pascapanen menjadi titik kritis yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Dari aspek ilmiah, Dr. Arifin menegaskan perlunya intervensi teknologi tepat guna pada tahapan pascapanen. Menurutnya, pemahaman petani mengenai pengendalian suhu dan kadar air selama proses fermentasi menjadi faktor penting dalam menghasilkan senyawa prekursor aroma khas kakao Indonesia secara konsisten.
Aspek ini tidak sekadar berkaitan dengan mutu produk, tetapi juga menentukan apakah kakao Indonesia mampu memenuhi standar evaluasi sensorik internasional.
Lebih jauh, Dr. Arifin menilai tantangan kakao Indonesia tidak berhenti pada aspek fermentasi semata. Menurutnya, persoalan mendasar justru terletak pada belum terbentuknya sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Kalau bahan bakunya berubah-ubah, hasil akhirnya pasti tidak konsisten,” jelas Dr. Arifin.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia hingga saat ini belum memiliki standar mutu kakao premium yang benar-benar dipahami dan diterapkan secara merata hingga tingkat petani. Akibatnya, banyak petani belum memiliki acuan yang jelas untuk menilai apakah proses pascapanen yang dilakukan, termasuk fermentasi, telah menghasilkan kualitas yang sesuai standar atau belum.
Menurutnya, perhatian pembangunan sektor kakao selama ini cenderung lebih banyak diarahkan pada penguatan pasar dan industri hilir, sementara pondasi utama di tingkat produksi belum dibangun secara optimal.
“Negara terlalu lama fokus pada hilir dan pasar, tetapi pondasi di tingkat petani belum diperkuat secara maksimal,” ujarnya.
Ia menilai aspek mendasar seperti penyediaan bibit unggul, pendidikan mutu, peningkatan kapasitas petani, serta standarisasi budidaya perlu menjadi prioritas dalam membangun ekosistem kakao premium yang berkelanjutan.
Selain persoalan kualitas, Dr Arifin menilai urgensi pembenahan sistem ketertelusuran (traceability) kini semakin mendesak. Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya tuntutan perdagangan global, termasuk kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mengharuskan komoditas pertanian memiliki sistem produksi yang lebih transparan dan berkelanjutan.
Di sisi lain, tren pasar global menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap produk kakao premium dengan identitas asal, karakter rasa spesifik, serta praktik produksi yang ramah lingkungan. Kondisi ini dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia apabila mampu melakukan transformasi dari orientasi kuantitas menuju kualitas.
Kehadiran Dr. Arifin dalam The Conversation Indonesia menunjukkan bagaimana hasil riset dan gagasan akademik dapat menjadi bagian penting dalam membaca arah masa depan sektor pertanian Indonesia. Bagi DTPB FTP UGM, keterlibatan dalam ruang diskusi publik juga menjadi bentuk komitmen menghadirkan perspektif ilmiah yang mampu menjembatani kebutuhan riset, industri, dan pengambilan kebijakan.
Lebih jauh, diskusi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kakao premium bukan semata persoalan meningkatkan produksi, tetapi juga tentang membangun ekosistem yang memastikan petani, teknologi, kualitas, dan pasar dapat tumbuh secara berkelanjutan dalam satu rantai nilai yang terintegrasi.